semut dan botol teh kosong
aku ada kisah pendek, yang tiba-tiba terlintas saat menunggu giliran dilayani sarapan oleh ibu penjual sayur lodeh,
aku duduk di bangku kayu panjang, melihat keluar dibalik jendela berjeruji kawat, didepanku berjajar botol-botol teh siap minum, ada yang masih terisi penuh, belum dibuka penutupnya, tapi beberapa botol sudah kosong, tiba-tiba mataku terpaku pada beberapa ekos semut yang ada didasar botol teh yang kosong, sepertinya berusaha untuk keluar botol, tapi kulihat perutnya sudah membuncit oleh teh, tentu dia sangat kekenyangan, beberapa masih berudaha keras untuk keluar botol, tapi beberapa juga ada yang merasa kelehan, dan hanya menatap lubang atas pohon,
aku jadi teringat sesuatu, apakah sifat dasar manusia juga seperti binatang, yang sama-sama makhluk hidup, aku berpikir coba jika semut itu minum tehnya tidak terlalu kenyang, tentu dia bisa keluar dari botol itu, coba jika semut itu berhenti setelah merasa cukup. tentu dia tidak akan kesulitan merangkak ke atas botol, bukankah semut seperti sudah menaklukkan gaya gravitasi bumi, apa yang sulit untuk berjalan keatas. sekarang sekeras apapun dia berusaha merangkak keluar mungkin tidak bisa, bahkan sampai matipun dia mungkin masih didalam botol, seperti sifat dasar manusia yang menjadi tamak,
berhentilah setelah merasa cukup, walau bagaimanapun kita hanya manusia, pada akhirnya tanah yang kita perlukan hanya ukuran 2 x 1 meter, jangan terlalu tamak pada dunia, karena mungkin kita akan terus merasa kurang dan kurang, dan setelah kita terperangkap pada situasi yang tak pernah kita bayangkan, kita akan sulit keluar, kita sulit untuk membersihkan diri, bahkan sampai mati sekalipun.
aku takut jika suatu saat seperti itu, karena pada dasarnya sifat manusia adalah tamak, ingatkah kisah hanya manusia yang mau menjadi khalifah di bumi ini setelah gunung-gunung dan lautan menolak menjadi khlaifah, ya seperti itulah sifat manusia.
berhentilah setelah merasa cukup, dan rasa cukup itu hanya kita sendiri yang tahu, jangan berlebihan, jika memandang keatas terus kita takkan pernah ada habisnya, pandanglah kebawah, tundukkan pandangan pada orang yang berpanas-panas hanya untuk sekedar makan sesuap nasi.
kita hanya manusia, dan dunia bukan diciptakan untuk kita, letakkan dunia ditangan dan kakimu, jangan dihati,