Jalan Setapak,
Jalan setapak itu masihkah sama?
Jalanan kecil yang membelah perkebunan teh,,,
Mendaki bebatuan besar, membungkuk dengan nafas terengah-engah…
Melihat tepian jalan di rimbunan teh,
Berharap buah merah itu sudah matang,
Senang rasanya memetik buahnya, merasakannya asamnya yang langka,
Mh……..
Mendaki lagi, menyusur jalan bebatuan besar,,,,
Mendongakkan kepala, menjulang puncak gunung dengan megahnya…
Menghampar begitu luasnya,,,,,
Sehingga kita tampak seperti barisan semut yang sedang berjalan,
Maha Besar Engkau dengan segala CiptaanMu……
Langkah kaki masih terus berjalan…..
Berhenti sejenak dibatu besar dipuncak jalan setapak itu,
Melongok kebawah, memandang dusun terkurung dibalik gunung….
Dusun yang tetap sama dari awal kusinggahi,
Hingga sekarang sudah beberapa tahun berlalu,
Dusun yang tetap damai walau apapun yang terjadi diluar sana dibalik gunung,,,,,
Dusun dengan mata air yang melimpah,
Dingin, segar, menyejukkan…….
Jalanan masih panjang….
Perlahan, puncak gunung terasa menjauh….
Perkebunan teh berganti dengan kopi,
Persimpangan demi persimpangan dilalui,,,,
Berjalan dan mengucapkan salam pada puncak gunung,
Saling mendoakan semoga kita saling berjumpa kembali,
Dalam kesempatan yang berbeda.
Dalam waktu dimasa yang akan datang,,,,,,,
Jalan setapak ini masih belum berujung,
Menyusuri hutan yang tidak benar-benar hutan……
Langkah kaki menjadi sangat pelan….
Jalanan licin, tapi membuatku selalu ingin melaluinya,
Harum tanah membelai setiap langkahku,,,,
Gemerisik serangga memekakkan telinga,,,
Dan sinar mentari menerobos diantara dedaunan rimbun,
Aliran sungai kecil, menemani setiap jejak yang kutinggalkan,,,,
Menyentuh lembabnya udara disekitar,,,,,
Aku masih mengingatnya,
Setiap langkah, setiap jejak, setiap nafas,
Gemerisik serangga, deras suara aliran air,,,,
Lembab tanah yang kupijak,
Pepohonan itu sudah bertambah tinggikah,,,,,
Rerumputan itu, sudah dipanenkah……
Banyak hal yang selalu membuatku ingin kembali dan kembali,
Tanah basah, helaan nafas berat dan derai tawa yang lelah,
Tapi semoga kita masih bisa kembali lagi,,,,
Menyusuri hutan pinus, dengan pucuk-pucuknya sebagai dawai irama angin,
Menghirup harumnya aroma pepohonan, yang menari mengiringi nyanyian rimba,
Diujung jalan stapak itu……
Kita serasa diatas awan…..
Memandang jauh peradaban manusia bumi,
Memandang jauh dibawah kaki kita,,,,
Inikah rasanya menjadi dewa?
Kurasa kita hanya bisa tersenyum membayangkannya,,,,,
Diujung jalan setapak ini….
Kita berawal, dan kita juga berakhir…….
Cintaku, sayangku, kisahku, dan kenanganku,,,,,,,,
Tawaku, tangisku, dan senyumanmu……
Sahabat……..