Archive | Childish RSS for this section

kenangan Kecilku

Stasiun kereta selalu membuatku sedih ,
melihat kereta api dengan gerbong yang panjang perasaanku disergapi rasa takut,
stasiun mengingatkanku pada seseorang yang hangat,
seorang perempuan selain ibuku yang bisa aku peluk dan menangis dipangkuannya,

dulu saat distasiun bersamanya aku mengira akan diajak bepergian naik kereta,
berkunjung ke tempat dia tinggal,
dia mengajakku naik kereta,
menunjukkan tempat duduknya,
dan melihat ayah ibu yang mengantar dari balik jendela kereta,
aku begitu bersemangat saat itu,
berlarian sepanjang gerbong,
aku tahu aku aman, karena dia berjalan dibelakangku,

tapi, saat suara seorang wanita terdengar keras diseantero stasiun,
dia mengajakku turun, dan menyerahkanku dipelukan bapakku,
dan dia melangkah naik kegerbong kereta, sendirian….
aku terkesiap melihatnya,
aku langsung tahu, ternyata dia meninggalkan kami semua lagi, lagi dan lagi
dia tidak mengajakku naik kereta,
dia duduk dibalik jendela kereta malam,
tersenyum dan melambaikan tangan kearahku,
aku hanya bisa melihatnya, aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku,
hanya saja aku tidak bisa tersenyum sepertinya,
yang kuperlukan saat itu hanyalah pelukan bapakku, aku tak ingin melihatnya,
aku sedih…

Dari saudara bapakku hanya dia yang selalu membuatku bisa bicara ditelepon,
dia selalu menanyakan kabarku, apa yang kulakukan, sudah makan apa belum,
tadi makan pake apa,
dan entah kenapa jawabanku selalu membuat dia tertawa,
waktu dia tanya makan pake apa? aku jawab pake sendok,
bukankah benar aku makan pake sendok, tapi tawanya terdengar terpingkal-pingkal,
aku tak tahu bagaimana pola pikiran orang dewasa,
aku rasa jawabanku sudah benar,

dulu waktu kami masih belum pindah rumah,
dan aku belum bisa berjalan dengan benar,
tiap kali dia datang kerumah, dia selalu mengajakku keliling kampung naik sepeda,
melewati rumah-rumah tradisional, jalan-jalan kampung,
melihat angsa dipinggir jalan, dan orang – orang yang ramai lomba tujuh belasan,
dia meletakkan tempat duduk kecil di stang sepeda,
dan mendudukkan aku disana,
kami keliling berpetualang bersama,
kemanapun aku pergi, jika bersamanya aku tidak takut,
karena aku tahu aku aman,
padahal aku sangat tahu dia tidak pernah pandai menghafal jalan,
pernah beberapa kali kita tersesat tidak tahu arah pulang,
tapi dia selalu bisa meredakan keresahanku, mengajakku bernyanyi,
berbincang tentang apa saja yang kita temui dijalan,
menawariku makanan, dan aku tahu, dia pasti menemukan jalan pulang,
makanya aku tak pernah takut bersamanya,

Sekarang aku sudah pandai berkata-kata,
jika dia datang kerumah, aku selalu ingin membuntutinya,
waktu dia sholat, aku akan menyibak tirai kamar mushola, memastikan dia ada,
saat dia mandi, aku akan berulang-ulang mengetuk pintu kamar mandi,
dan memanggil-manggil namanya, sampai dia menjawab dari dalam kamar mandi,
aku senang melakukannya,

dia adalah orang yang bisa memelukku dan memberi hukuman dengan keras kepadaku,
kalau menghukumku, dia akan menggelitik perutku, hingga aku geli dan mengakui kesalahanku,
atau waktu dirumah embah, saat aku nakal dia dan omku bilang mau memasukkan aku ke kamar yang ada peti matinya,
entah apa itu, tapi dia berkata seperti itu, karena dia tahu pasti aku sangat takut dengan setan, pocong dan teman-temannya
yang aku tahu dia menghukumku saat aku berbuat salah, berbuat keterlaluan dan berbuat seenakku, tapi aku tak bermaksud berbuat jahat,
dan dia tahu itu,
dan aku juga tahu saat dia memberi hukuman dia juga tak bermaksud berbuat jahat kepadaku,

sekarang apa dia merindukan aku,
aku rasa dia pasti rindu dengan celoteh kecilku…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.