Posted by: martiana on: April 4, 2011
wah, lama sekali rasanya dah gak nulis kangen. berawal dari suatu hari 2 bulan yang lalu rasanya ingin sekali mendapat siraman rohani, maklum pupuk untuk jiwa sedang menipis dan terinspirasi dari buku “lima menara”, kuarahkan krusorku pada mesin pencari dan kuketik sebuah kalimat “pondok pesantren di jakarta” kutekan enter, segeralah eyang google mencarikannya untukku. banyak sekali yang ditawarkan eyang google untukku, yang kadang tidak masuk akal, karena semua yang berbau pondok pesatren otomatis masuk dalam daftar tawaran itu, dari daerah kuningan, bahkan jombangpun masuk, ck ck ck tapi aku tidak patah semangat tiap malam tiap ada kesempatan aku cari di web-web muslim yang aku tahu, tiba-tiba aku teringat pada daarut tauhid, biasa disana menyelenggarakan kajian-kajian lepas kerja, walau aku tahu di masjib BI tiap hari senin minggu ke tiga selalu ada, tapi aku lebih banyak tidak bisa datangnya dari pada bisanya. segera kuketik http://dtjakarta.or.id/ dan klick, mataku tertuju pada tulisan “Get strongs character! pesantren sabtu-ahad” apa ini? segera kupelajari infonya, kuajak teman sebelah kamar untuk mengikutinya. dan Alhamdulillah ya Allah Engkau selalu memberi jalan orang yang mencari jalan, padahal pendaftarannya kurang 1 minggu lagi, karena takut aku berubah pikiran (banyak alasan untuk menolak kebaikan) aku segera daftar dan transfer untuk biayanya, he2 itu suatu cara untuk memaksa diriku kembali ke jalan yang lurus.
awal maret pesantren kota itu dimulai, di pondok pesantren yang entah dimana aku tidak tahu, waktu itu aku menyebutnya di negeri antah berantah. Berangkat dari gambir jam 10 pagi sebenar sudah yakin kalau nyampe sana pasti telat, karena memaksa tubuh bangun pagi dihari sabtu ternyata sangat susah. berdasarkan sms yang kuterima 2 hari sebelumnya aku naik p20 untuk menuju lebak bulus, bis berjalan lambat, sampai di lebak bulus jam 12 siang, dengan bertanya pada beberapa orang, akhirnya aku naik angkot jurusan ciputat, sampai di pasar ciputat aku dan temanku bingung harus naik angkot jurusan bukit atau serua? entahlah karena ingin segera sampai mataku segera mencari mobil yang lebih efektif mengantarkan kami yaitu mobil biru angkutan public, taxi pun mengantarkan kami ke alamat pondok pesantren daarut tauhid jakarta, tidak sulit menemukannya, dan here we are kami sampai di depan pintu gerbang pesantren.
memasuki gerbang pesantren aku sempat deg-degan, pasalnya mbak-mbak disana sudah rapi dengan gamis dan jilbab lebarnya, sedangkan aku memakai celana, kaos dan gaya jilbab yang kupakai sehari-hari, ah saltum nih. hari pertama itu kulalui dengan belajar pelan-pelan beradaptasi dengan lingkungan, dengan orang-orang baru yang kutemui, materi thoharoh meluncur dari mentor, keluar masuk dari telingaku, untuk aku sudah membaca sedikit tentang thoharoh dari buku yang kubeli, jadi sedikit banyak mengerti. malam pertama di pesantren aku dikejutkan dengan seorang ustadz yang bertanya pada salah satu santri “sejak kapan kamu islam?” deg, aku terdiam walau pertanyaan itu bukan untukku, tapi kok rasanya menohok jantungku ya, aku islam sejak lahir, tapi apa yang kutahu tentangnya, salah satu santri akhwat ada yang mu’alaf dan sepertinya dia lebih tahu banyak tentang islam dari pada diriku yang notabene islam sejak lahir, ya Allah maafkan hamba, hamba malu,,, diakhir kajian itu kutulis dalam bukuku “selamat wahai diriku, kamu sudah menjadi muslim sekarang, semoga menjadi muslim sejati, a…mi…n”
mulai hari itu setiap sabtu ahad aku menolak ajakan teman, bahkan ditanya orang rumah “tanggal 22 nanti pulang gak?” maklum mereka lebih hafal tanggal merah daripada aku sendiri dengan jawaban yang tegas “saya pulang insyaAllah bulan Mei bu, mas, mbak” karena kerjaan dari senin-jumat yang kayak gak ada jedanya, sabtu ahad dilanjutkan dengan yang kusebut sebagai kegilaanku nomer 5 diminggu ke akhir maret aku tepar tak berdaya, mungkin juga karena malamnya aku kerja di luar kota sampai jam 2 malam, dan sabtunya masih harus lari-lari ngejar waktu dengan taksi menuju pancoran untuk ketemu sodara yang sedang wisuda di jakarta, sampai kos jam 2 siang, langsung tertidur hingga sore, begitu bangun aku segera sms mentor tidak bisa datang minggu ini, padahal minggu ini dimonas hanya berjalan 5 menit dari kos aja dah nyampe tapi kenapa diriku? kamu sangat malas untuk membangkitkan semangatmu? gassswatt nih, trio bandidos (iblis, setan dan Jin) mulai menyerangku.
karena khawatir trio bandidos menang sabtu berikutnya kupaksakan diriku untuk menuju pondok pesantren serua, rasanya kangen dengan suasananya. walau kurang tahu jalannya tapi kuputuskan untuk naik motor kesana, karena kalau naik bis, memerlukan waktu yang lebih lamaaaa lagi. padahal aku baru sekali kesana dan itupun naik bis, tapi sepertinya aku tidak kesulitan menemukan jalan kembali kesana, aku heran mungkin ini petunjukMu ya Allah karena biasanya kemampuanku otakku tidak secerdas itu untuk mengingat jalan, harus 3 atau 4 kali untuk mengingat jalan baru, lha ini baru sekali kok langsung ingat, terimakasih banyak ya Allah, segala puji bagiMu.
dan seperti awal aku ke pondok, aku kembali deg-degan, jam 13.45 waktu serua, aku sampai diparkiran pondok, kajian di masjid sudah dimulai, dengan tangan masih bergetar karena terlalu lama mengendarai motor aku ke toilet untuk ganti pakai rok!!!
Entah sengaja atau bagaimana, yang pasti di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Siang itu materi pertama dari mentor adalah sholat jenazah. aku yang dari lahir belum pernah sholat jenazah pelan-pelan melafalkan bacaan-bacaan sholat saat mendapat giliran menghafal, yang baru aku tahu kalau jenazahnya laki-laki hada mayyiti kalau perempuan hadihi mayitati, “ya Allah diriku, selama ini kemana aja?”. kajian setelah sholat isya gambar di monitor menunjukkan sebuah pemakaman yang salah satu lubangnya masih kosong.
ustadz bertanya “kita ini keturunan siapa?”
santri menjawab “nabi adam”
ustadz : “yakin keturunan nabi adam?”
santri : diam, biangung harus menjawab apa, toleh kanan, toleh kiri
ustadz : “nabi adam berasal dari mana?”
santri : “surga”
ustadz : “berarti kita keturunan surga”
diriku : deg, terdiam sungguh mulia manusia, kita adalah keturuna surga
“kita adalah turunan surga, mengalir darah dari nabi adam ke tubuh kita, walau kita entah keturunan ke sejuta sekian sekian, tapi awalnya ternyata nenek moyang kita pernah hidup di surga!!! kita harus tumbuhkan karakter surga dalam jiwa kita, di Alqur’an lebih banyak disebutkan hal yang halal dari pada yang haram, jadi sebenarnya tidak sulit seharusnya bagi kita untuk menemukan hal halal, kita berawal bersih insyaAllah jika kita akan kembali bersih”
itu mungkin sebagian kecil yang aku kutib dari kajian ustadz malam itu. kita turunan surga!!! masih berdengung dalam otakku, malam itu kami dipersilahkan tidur lebih awal, kata panitia malamnya sebelum sholat lail kita akan dibangunkan karena ada kegiatan. sok, mangga atuh, yang penting sekarang tidur……
entah jam berapa terdengar suara berisik, sebelum dibangunkan aku terbangun sendiri, salah satu panitia mendatangiku langsung melepaskan slayerku, karena masih bingung aku minta diri untuk minum dulu, kulihat diluar gelam sekali tak ada nyala lampu, tanpa babibu mataku ditutup, apa ini? karena antara alpha dan beta masih belum stabil, aku nurut aja saat dituntun keluar, aku pikir “toh aku pernah menjadi panitia seperti ini, panitia pun tak ingin mengambil resiko tinggi, jadi pasti masih aman” waktu itu pikiranku langsung tertuju jangan-jangan ini jurit malam mau diajak kemakam, hi… biarin lah, aku yakin panitia pasti sudah memperhitungkan resikonya. tapi karena pengalaman dulu waktu kuliah, dan aku rasa ini masih di areal pesantren, aku hanya diajak muter-muter dengan mata tertutup, setelah sampai disuatu tempat aku disuruh duduk, dan ditinggali korek api ditangan! tapi entah kenapa aku yang sangat penakut malam itu tidak takut sama sekali, karena aku yakin masih mendengar suara langkah, suara orang bergumam dan suara – suara berisik lainnya yang ditimbulkan oleh manusia! beberapa saat berdiam diri terdengar suara ustadz mengalun bermuhasabah, kami diminta membuka penutup mata, didepan berjarak 30 cm terlihat papan nisan, kunyalakan korek api, deg!!! “ya Allah, nama :Martiana PL, Binti : M. Chamim, Lahir : 16-3-1984, Wafat :………” apa maksudnya??? papan nisanku, aku hanya terdiam sudah siapkah??? alunan suara ustadz masih terdengar, kupandangi langit malam itu berwarna terang kelabu, mungkin pengaruh dari bulan, kuingat satu-satu wajah keluargaku, bapak yang selalu menggenggam tanganku, ibu yang selalu melihat senyumku, kakak-kakakku yang selalu melindungiku, adik yang menyediakan punggungnya untukku, ponakan-ponakanku yang selalu membuat aku tertawa, satu-satu wajah itu berlintasan di kepalaku, kubayangkan bagaimana aku melihat diriku dimandikan, disholatkan, diusung ke pemakaman, dimasukkan kedalam lubang di tanah, di tutup tanah, kulihat wajah bapakku, ibuku, mas-masku,mbak-mbakku, adikku, tak terasa badan ku bergetar tak kuasa menahan aliran hangat yang keluar dari mata dan hidungku, “ya Allah kami adalah turunan surga semoga saat Engkau memanggil kami, kami dalam keadaan khusnul khotimah, kembali bersih seperti saat Engkau melahirkan kami, amin….”
sementara ini dulu, aku masih harus mandi dan bersiap-siap ke kantor “i love monday”