Posted by: martiana on: February 10, 2010
Siang yang panas menyengat aku berdiri dipersimpangan jalan yang berdebu dengan lalu lalang mobil bersliweran dari berbagai arah, tenggorakanku semakin kering dengan haus yang semakin menyiksaku, kalau tidak ingat bahwa aku masih memerlukan uang ini untuk ongkos naik bis nanti, aku pasti sudah beli air mineral pada seorang bocah pedagang asongan yang lewat didepanku. Tapi apa boleh buat, uangku hanya cukup untuk ongkos bus, dan hanya sisa beberapa ribu rupiah, jaga-jaga kalau ada apa-apa dijalan.
Sebenarnya aku ingin mengutuk matahari yang dengan sok kuasa menambah sinarnya, tapi siapa yang harus kusalahkan, dia juga hanya menjalankan titahNya, seperti aku, pepohonan dan rerumputan disini, jadi aku pasrah saja kepanasan dibawah terik panas yang semakin membara ini. Bus yang kutunggu juga tidak kunjung datang, sambil menenteng tas yang berisi ijazah dan sertifikat-sertifikat lainnya, aku masih bersabar menunggunya.
Aku baru saja lulus dari Universitas yang tidak bisa dibilang cemerlang tapi juga tidak bisa dibilang jelek, kalau bisa dibilang standar, IPK ku juga standar, diatas lebih sedikit dari rata-rata yang diperlukan perusahaan-perusahaan untuk syarat karyawannya. Dan seperti permasalahan lulusan-lulusan baru di Negeri Republik Indonesia ini, aku juga dihadapkan dengan Lapangan Kerja yang sulit, setiap Sabtu dan Minggu melihat Koran mencari lowongan perusahaan-perusahaan, mengirimkan surat lamaran ke berbagai perusahaan, dan kemudian menunggu undangan wawancara, dan ini adalah wawancara kesekian yang aku datangi, dan selalu berdoa bahwa ini adalah keberuntungan untukku. Aku tidak mau menyerah dan tak ingin menyerah, walau aku sekarang bisa disebut pengangguran tapi setidaknya aku pernah mengenyam pendidikan di sekolah tinggi, dan lebih beruntung dari adek-adek yang kepanasan sambil menawarkan air mineral dan permen. itu “maafkan aku dek, sebenarnya aku ingin beli aquamu, tapi apa boleh buat aku harus berhemat untuk pulang” aku hanya bisa bersuara lirih dalam hati memandang bosah kecil dibawah lampu merah.
Setelah tiga puluh menit berdiri kepanasan, bus warna hijau jurusan lebak bulus akhirnya datang juga. Tidak seperti di film-film korea dengan bus yang bersih dan tidak penuh sesak, bus di sini selain tidak terjaga kebersihannya, juga berapapun jumlah penumpang pasti diangkut, yang penting mampu bayar. Aku termasuk penumpang yang malang itu, berusaha bisa masuk walaupun udara pengap dan pegangan tangan hampir tidak ada, karena penuh dari belakang sampai depan, yang paling mengherankan sang keneknya masih saja bilang “maju mbak, maju mbak, mepet lagi, belakang kosong”, “kupret, kosong pale lo” dalam hati hanya bisa merutuk, walau aku maklum semaklum-maklumnya dia juga punya anak istri untuk dinafkahi dirumah.
Bus berjalan dengan kecepatan seadanya, karena daerah kuningan yang macet tiap pagi dan sore jam berangkat dan pulang kerja. di depan pasar festival dua orang gadis kecil naik ke bus, yang satu membawa kantong plastik permen yang seorang lagi membawa gitar kecil, mereka berdua adalah pengamen. dengan lantang suara mereka memecah kepengapan udara bus, membawakan sebuah lagu ungu bertemakan religi, karena aku bukan penggemar ungu fanatik aku tidak tahu judul lagunya, tapi aku kagum pada mereka berdua sekaligus miris melihat nasib anak-anak itu. Aku juga tahu maksud mereka menyanyikan lagu itu adalah untuk meraih simpati, penumpang yang notabene pasti sebagian besar muslim, karena kita tinggal di Negara dengan penduduk muslim terbesar didunia, tapi tak punya kekuatan Islam sama sekali, tapi aku maklum juga karena mereka juga hanya sekedar mempertahankan hidup di bumi Jakarta ini. Jika melihat hal seperti itu aku kadang mempertanyakan kekuatan Undang-Undang 1945 kita, yang berbunyi, anak terlantar dipelihara oleh Negara. dipelihara dimananya ya mereka? ah sudahlah, nasibku mau bagaimana saja aku tidak tahu, masih memikirkan nasib orang lain. Tapi bagaimana jika pikiran para pejabat kita seperti aku, lalu siapa yang akan memikirkan mereka?? salah seorang gadis kecil tadi menyodorkan bekas bungkus permen didepanku, akupun segera tersadar bahwa lagunya sudah selesai, dan inilah waktunya mengambilkan hak mereka, aku tersenyum dan merogoh recehan di saku untuk kumasukkan ke bekas kantong permen itu.
Sampai di pertigaan mangga besar aku turun, kemudian nyambung lagi naik angkot arah Pasar Minggu turun depan gang perumahan, kemudian jalan kaki dua ratus meter kedalam. Sampai rumah lelah sekali, perjalanan kali ini mungkin tidak membawaku ke pekerjaan yang kuharapkan, tapi setidaknya aku masih beruntung dibandingkan anak-anak yang kutemui dijalanan tadi, mereka masih harus berpikir makan apa nanti malam, tidur dimana kita nanti malam? atau berdoa semoga besok tidak tertangkap satpol PP saat ngamen. Aku berpikir terus tentang mereka, bagaimana kalau hujan, mereka tidur dimana? tapi mereka bagai embun di siang hari bagiku, membuatku untuk harus tetap berjalan, untuk kemudian mencoba mempertahankan hak-hak mereka yang belum pernah mereka rasakan, semoga…
suara ibu memecahkan lamunanku, saat memanggil untuk makan bersama dengan hidangan yang cukup membuat tubuhku bergizi, aku pun berdoa “ ya Allah segala puji hanya padaMu, rahmatilah kami dan berkahilah kami dijalan yang lurus, terimakasih atas rejeki dalam hidangan ini, amin”.
Theme: Albeo by Design Disease.