Ujung Genteng
Liburan Awal Tahun Masehi 2010, salah seorang teman kos ingin berlibur bersama disuatu tempat, tapi karena belum tahu kemana, saya mengusulkan Ujung Genteng suatu daerah yang belum sempat aku kunjungi karena suatu hal. karena tidak tujuan akhirnya mereka menyetujuinya. Saya pun menghubungi teman-teman alumni eks kuliah dulu, apakah mereka bisa turut dalam perjalanan backpacker pertama saya ini. dan beberapa diantara pun menyetujui untuk turut serta. Karena rencana perjalanannya liburan awal tahun, maka kami perkirakan pasti banyak sekali pengunjung dan kami khawatirkan penginapannya sangat ramai, jadi 1,5 bulan sebelumnya kami sudahbooking penginapan dengan harga Rp. 400.000,- di Pondok Adi, sebenarnya jika tidak pas Liburan Pondok Adi bisa ditawar dengan harga Rp. 300.000,-
Perjalanan kami mulai pada tanggal 31 Desember 2009 Pukul 19.30 WIB dari Kos di Jalan Batu 3, kami ber Empat, Yayah, Ririh, Hijrah dan saya sendiri menuju kota Depok di Kosnya Rosita dengan kereta Ekspres dari gambir dan bertemu dengan Anug disana. Kami memutuskan berkumpul di Depok untuk naik kereta pertama menuju Bogor agar bisa mengejar Bis ke Surade yang pagi. Jakarta sudah mulai menampakkan kemeriahan tahun baru Masehi 2010, saat semua orang berbondong-bondong menuju Monas ke Pusat Keramaian, kami meninggalkan keramaian yang tak pernah habis pikir untuk apa.
Pukul 21.00 kami tiba di kos Rosita, karena sebelumnya komunikasi kami hanya lewat telepon dan email, disini kami merencakan tujuan wisata Ujung Genteng yang kami kunjungi dan Biaya yang harus kami keluarkan, serta berbelanja beberapa camilan untuk Perjalanan besok. Anug baru tiba pukul 22.15 WIB. karena pagi tadi saya mendapat oleh-oleh Empek-Empek dari teman yang dinas ke Jambi, kami pun menggorengnya dan dimakan ramai-ramai, memang tak ada yang lebih nikmat dari a makan ramai-ramai dan berebut dengan teman. hingga kami tidak menyadari bahwa tahun menurut hitungan masehi sudah berganti, kami baru sadar saat suara kembang api saling bersahutan di jalanan Depok, karena sangat ramai kami baru bisa tidur jam 01.30 WIB.
Pukul 03.00 WIB Alarm berbunyi, mengaharuskan mata untuk terbuka, kami pun bergantian mandi, karena kereta pertama ke Bogor Pukul 05.30 WIB, kepala pening penulis pun tak bisa dihindari hanya dinikmati karena kurang tidur. Pukul 05.10 Kami berangkat menuju Stasiun Depok. dengan kecepatan 20 km perjam, karena takut ketinggalan kereta. tiket kereta ekonomi Depok-Bogor Rp. 1.500,- per orang, tepat Pukul 05.35 WIB kereta datang, kami pun segera naik dan mencari tempat duduk.
Sampai stasiun Bogor Pukul 06.05 WIB kami segera naik angkot menuju terminal Baranang Siang Bogor, dengan biaya sekitar Rp. 2.500,- perorang. Sesampai diterminal kami segera Mencari Bis Jurusan Bogor-Surade, sebenarnya tarif perkiraan kami hanya Rp. 25.000,- tapi mungkin karena ini musim Liburan jadi tarifnya naik menjadi Rp. 35.000,-. Kami berenam sebenarnya ingin naik Bis selanjutnya saja, tapi karena kenek bisnya meyakinkan kami semuanya dapat tempat duduk, maka kami naik bis yang pertama. dan alhasil karena penuhnya Bis dan medan perjalanan yang tidak kami perkirakan sebelumnya, serta lamanya perjalanan, 3 diantara kami mengalami mabuk darat, termasuk saya sendiri sampai 5 kali muntah, sampai tak ada lagi yang tersisa isi perut. mungkin karena awalnya sudah sakit kepala dan duduk dibelakang yang banyak anginnya dan tepat diatas roda sehingga goncangan bis dijalan berliku jadi berdampak berkali-kali lipat (ha2 padahal hanya alasan karena mabuk)
Sekitar Pukul 12.00 kami tiba di termuinal Surade, terminal kecil dengan minim angkutan, hanya terlihat beberapa Bis antar kota dan beberapa angkot. Karena sudah dapat referensi harga sebelumnya dari teman kantor yang ke Surade, kami segera menawar carter angkot untuk 2 hari ini, karena hari pertama hanya setengah hari kami mencarter dengan harga 150rb, dan pada hari kedua 200rb.
Setelah mendapat carteran angkot pak Akung kami segera ke penginapan Pondok Adi untuk istirahat sebentar dan makan siang. karena perjalanan yang jauh dan berliku sesampai diPondok kami segera teler dan tidur. Penginapannya Lumayan berbentuk rumah panggung dengan 2 kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan sebuah wastafel, enaknya semua dinding pondok dari bambu, sehingga terkesan alami seperti di desa. Maklum kami berenam adalah anak desa sejati he2.
Pukul 16.00 WIB kami merencanakan ke Pantai Cipanarikan melihat Golden Sunset, tapi tidak semua yang direncanakan dapat dilaksanakan, karena ketidak tahuan kami akan tempat-tempat wisata di Ujung Genteng, setelah melewati jalanan tanpa aspal bahkan banyak genangan air dimana-mana kami sampai disuatu tempat yang akhirnya kami tahu adalah tempat pelepasan tukik (anak penyu) di Pangumbahan. agak kecewa juga awalnya pada sopir angkotnya karena tidak sesuai keinginan kami. tapi ya sudahlah, karena sampai situ jam 16.30WIB setengah jam lagi pelepasan tukik-tukik ke laut yang sepertinya seru juga,
pantai berpasir putih dan luas sekali membuat kami terlena. seperti biasa dan sebelumnya sudah direncanakan kami berfoto-foto dipantai hingga menjelang senja. Sebenarnya awalnya kami tidak berencana untuk berbasah-basahan tapi karena pesona ombak dan buihnya tak bisa kami tolak akhirnya kamipun saling menceburkan diri ditepi laut, pantai pasir putih.
Setelah mentari tenggelam digaris laut kami pun pulang ke penginapan, karena hanya ada satu kamar mandi kami pun bergantian mandi, padahal baju kami sudah basah semua, berrrrrr dingin. karena kami kelaparan dan capek keluar jalan-jalan kami pesen mi kuah di penginapan. dengan saos dan kecap yang ternyata dimasukkan chass yang kami makan, he2 capek deh….

Sabtu pagi tanggal 2 Januari 2009 sekitar pukul 05.30 Wib kami berjalan-jalan di tepi pantai Aquarium dan biasa pasti acara foto-foto tak pernah kelewatan,
kami harus berjalan-jalan agak jauh untuk cari Sarapan, dan ternyata kami hanya menemukan bubur ayam untuk sarapan, yah karena tak ada pilihan lain akhirnya kami pun sarapan bubur sarapan. pukul 08.00 WIB Angkot yang kami carter sudah datang, tapi karena kami baru sampai dari jalan-jalan, kami meminta angkot untuk menunggu, sekitar 1,5 jam kemudian baru kami siap semuanya, perjalanan kami awali ke Goa Sungging. Untuk menuju Goa kami harus berjalan melewati pematang sawah, dan sungai kecil, suasana pedesaan sangat terasa disini, sesampai di mulut Goa kami dikenalkan dengan juru kunci Goa, dan disiapkan lampu petromaks untuk memasuki Goa, setelah semuanya siap kami memasuki mulut goa yang awalnya turun kebawah, mulut goa sudah diberi pintu dari besi, serta kunci gembok besar tergantung di pegangan pintunya. Didalam goa sangat kering dan sangat banyak jalurnya sehingga mengingatkan saya dan hijrah pada waktu kuliah dulu, saat kami hanya tau ketawa-ketiwi dengan hati berdebar didalam goa yang belum kami kenal.
Tapi perjalanan goa saat ini beda, kalau dulu kami menjadi pemandu untuk diri sendiri dan rombongan, dengan peralatan lengkap heatlamp, sepatu boat serta weebing dan carmantel, sekarang kami jalan didalam goa dengan pemandu didepan dan berjalan dijalur yang aman, serta menghindari jalur-jalur gelap yang tak tau kemana ujungnya dan sungai bawah tanah yang terdengar bergemuruh. Lucunya saat kami memasuki salah satu lorong goa, kami bertemu dengan salah satu rombongan penelusur goa lainnya, sebenarnya inilah keinginan sejak lama saya setelah kenal dengan kegiatan caving, yaitu bertemu rombongan penelusur goa lainnya di dalam goa, he2. Kami memutuskan hanya separuh jalan saja karena waktu yang tidak memungkinkan dan ada beberapa teman yang rewel pengen segera keluar goa, sepakat kami keluar goa, karena jika menuruti keinginan hati pasti tak kan ada habisnya, setelah keluar kami istirahat sebentar di gubuk diatas pintu goa, tanpa prasangka yang negatif bendahara rombongan kami Rosita sudah menyiapkan uang Rp 50.000,- untuk juru kuncinya, tapi tak disangka-sangka sebelum dia menyelipkan uang ditangan juru kunci, dia sudah dibisiki biaya masuk goa sebesar Rp. 150.000,-
Sebuah ongkos antar yang fantastis terutama untuk kami alumni politek yang tak pernah bayar untuk masuk goa, tapi sekali lagi teman kami rosita membuktikan kalau dia adalah bendahara yang handal dia menawar menjadi 100rb, yah ikhlas gak ikhlas kami memberikan uang itu, untuk sebuah pengalaman masuk goa,he2
Dari goa Sungging kami meneruskan perjalanan ke air terjun Cikaso, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, karena hanya sarapan bubur ayam, cacing-cacing dalam perut kami sudah protes meminta jatah mereka, sebagai tuan yang baik kami senantiasa memenuhi keinginan para cacing dengan makanan yang lezat, tapi karena merasa kurang pas dengan masakan di curug cikaso, kami menenangkan cacing-cacing kami dan berjanji memberi mereka makan nanti di surade setelah dari curug cikaso.
Untuk menuju curug kami diharuskan naik perahu dengan tarif Rp. 60.000 per perahu dan biaya masuk Rp. 2.000 per orang, sehingga jika dijumlah 6 orang harus membayar Rp.76.000,- tapi karena ada 2 orang muda-mudi yang ingin ngirit, daripada nyewa perahu 60rb untuk berdua mereka pengen ikut rombongan kita yanng berenam, sehingga kami membayar 60rb dan mereka 16rb untuk berdua, he2 tapi konsekuensinya mereka yang harus menyesuaikan dengan kami.
Kami naik perahu hanya sebentar saja tidak sampai 15 menit perahu yang kami naiki sudah menepi, membuat kami tersenyum kecil, tapi ya sudah lah, menuju ke curug kami jalan sekitar 200-300 meter, sesampai di curug kami disuguhi 3 air terjun saling berdampingan, 2 air terjun besar dan satu yang agak kecil agak jauh dari keduanya, keseluruhan pemandangan di curug cikaso sungguh indah dan tampak menyegarkan, aliran air yang mengingatkan saya pada salah satu ayat suci yang mengatakan bahwa diSurga nanti mengalir sungai-sungai dibawahnya,
ya Allah terimakasih atas sesgala karunia dan anugrahMu. Air di curug Cikaso sangat bening dan dingin membuat salah satu teman kami tidak sabar untuk menceburkan diri di bawah curug, sayang kami datang saat liburan jadi banyak sekali pengunjung curug. Sehingga kurang leluasa untuk bermain air. Pukul 14.00 WIB kami beranjak dari curug, beli buah manggis di warung tepi curug dan minum teh anget, nyam-nyam mengingat kami belum makan siang, cukuplah untuk menenangkan bunyi dalam perut kami. Kami naik perahu untuk kembali ke parkiran angkot carteran, dan kami menyadari sesuatu yang janggal dari perjalanan naik perahu ini. Antara tempat parkir mobil dan curug tidak dipisahkan oleh sungai, tidak jauh dan kami rasa bisa dilalui dengan jalan darat, dengan melalui ladang dan kebun setempat, lalu sebenarnya untuk apa naik perahu? Wah2 sekali lagi kami dikecewakan atas pengelolaan tempat wisata di Ujung genteng.
Sebenarnya kami seperti wisatan lain, yang bersedia membayar biaya masuk wisata, tapi ya sewajarnya saja. Jika pengelolaan yang baik bagi tempat-tempat wisata di Ujung Genteng, kami yakin pasti lebih maju dan mengundang lebih banyak turis lainnya.
Setelah makan siang di Surade kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Jakarta, karena sudah pukul 16.00 WIB untuk kembali ke Jakarta kami hanya bisa naik mobil Elf jurusan Sukabumi. Ongkos untuk ke Sukabumi Rp. 22.000,- saya baru menyadari bahwa perjalanan yang kami lalui kemarin sungguh indah, dengan jalan berliku diantara perkebunan teh yang terhampar berbukit-bukit,, mungkin saat beranngkat saya terlalu sibuk dengan isi perut yang ingin keluar dan goncangan-goncangan bis yang berkesudahan sehingga tak menyadari panorama alam sepanjang perjalanan. Jam 20.30 WIB kami sampai di Sukabumi, karena kami benar-benar asing disini, dan malam juga sudah larut, kami berusaha terlihat setenang mungkin jangan sampai mengundang perhatian orang-orang yang berniat kurang baik. Kami bertanya bis ke sukabumi-jakarta yang ternnyata sudah habis. Dan ada 2 alternatif lainnya untuk ke Jakarta, yang pertama naik Elf jurusan Bogor yang ada di terminal turun di Ciawi untuk naik bis jurusan Bandung-Jakarta, yang kedua jalan agak jauh dipersimpangan lampu merah, menanti bis jurusan Bandung-Jakarta. Kami memillih alternatif kedua karena lebih praktis langsung ke Jakarta, walau jalan ke persimpangannya di ikuti mobil Elf jurusan Bogor. Cuek aja lah. Hampir tengah malam kami tiba di terminal kampung rambutan, terminal yang harus membuat kita ekstra hati-hati, karena jarak antara Kampung Rambutan-Depok lebih dekat kami memutuskan untuk ke menginap di Depok dulu, baru keesokan pagi pulang ke kos masing-masing.



