Archive | January 2010

Mandalawangi-Pangrango by : Soe Hok Gie

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu

aku datang kembali kedalam ribaanmu,

dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna

aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

dan aku terima kau dalam keberadaanmu

seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi

sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada

hutanmu adalah misteri segala

cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “

tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar ‘

terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara

aku terima ini semua

melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

waktu

Semua Takkan sama seperti dulu, Seiring dunia yang berubah,

Kau  akan berubah, aku berubah dan  kita semua akan berubah,

Kita memang orang sama seperti dulu, tapi takkan serupa lagi,

Lingkungan yang ada disekitar kita berbeda sekarang,

Kau dengan duniamu, dan aku dengan kehidupanku,

Mungkin kita masih sama-sama menyimpan kotak sejuta mimpi masa lalu,

Tapi sekarang itu hanya untuk bahan pembicaraan jika kita semua bertemu,

bercanda, dan saling melemparkan cemoohan yang sama sekali tidak menyakitkan,

tapi tenanglah kawan…

ini adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan,

tak ada yang luar biasa, karena yang tidak berubah didunia ini hanya perubahan itu sendiri,

Aku berubah, kau berubah, kebiasaan kita berubah, pandangan kita berubah, dan tanggung jawab kita juga berubah,

sehingga kita mempunyai sedikit waktu dan kesempatan untuk saling berbagi informasi,

tapi sekali lagi itu adalah hal yang biasa dalam kehidupan,

perubahan yang kadang kita tanyakan,…

tidak perlu menyalahkan siapa-siapa,

tidak perlu ada yang merasa bertanggung jawab,

dan tak perlu bertanya apa yang tengah terjadi,

karena ini adalah hal  yang biasa….

pencopet yang budiman

Jika kita ditanya apa berat menjalani hidup? apa yang akan kita jawab?

Kita hanyalah Debu, atau kita hanya sebutir pasir hamparan lautan milikNya,

Sebenarnya Allah sudah berfirman, takkan membebani umatnya melebihi kemampuannya, jadi apa yang memberatkan kita? nikmat apalagi yang kita ingkari?

jika kita seorang pencopet? atau jika kita tukang bangunan mana yang lebih sanggup kita kerjakan?

entahlah, untuk menjadi pencopet pasti ada suatu proses, suatu keadaan yang memaksanya, atau membuatnya untuk memilih, entah anaknya sedang sakit, keluarganya belum makan 2 hari atau ayahnya sedang menunggu di ruang gawat darurat untuk di operasi. Tapi… pasti masih ada pilihan lain yang bisa dilakukan selain mencopet. Mencopet adalah merampas hak orang lain secara paksa, walau kemungkinan besar itu adalah amalan yang belum tersalurkan oleh si korban copet. pencopet itu suatu pekerjaan atau hobby? bagaiaman jika copet dijadikan pekerjaan, bagaimana pertanggungjawabannya pada yang diatas, atau bagaiamana mungkin kita bisa memberikan uang hasil copet kepada istri, suami atau anak kita untuk makan? apa mereka bisa tenang, atau perut mereka jadi panas?

kita tidak bisa bilang pencopet adalah pekerjaan yang hina, karena mungkin itu adalah cara lain tuhan agar kita beramal, memaksa kita untuk memberikan hak orang lain yang masih kita pegang. tapi antara pencopet dan Tuhan tentu punya urusan sendiri, karena dia pasti punya pilihan lain selain mencopet, merampas hak orang lain.

Menjadi apapun kita, takkan pernah untuk sangat mudah, tapi juga takkan pernah untuk sangat menyulitkan, ingat bersama kesulitan pasti ada kemudahan, jadi pak copet yang Budiman, Semoga Engkau insyaf  atas dompet dan tas teman-temanku yang telah engkau rampas. Semoga Engkau ditunjukkan jalan yang lurus, semoga uangnya engkau manfaatkan dengan baik, dan setelah itu Engkau juga kecopetan, he2 bercanda….

Pak Copet yang Budiman, jangan ulangi lagi ya, semoga Engkau baik-baik saja dengan uang hasil copetannya, dan semoga tidak terjadi suatu apapun pada keluarga yang engkau beri nafkah dari hasil mencopet.

Allah takkan membebani seseorang lebih dari kemampuannya dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan,

Ujung Genteng

Liburan Awal Tahun Masehi 2010, salah seorang teman kos ingin berlibur bersama disuatu tempat, tapi karena belum tahu kemana, saya mengusulkan Ujung Genteng suatu daerah yang belum sempat aku kunjungi karena suatu hal. karena tidak tujuan akhirnya mereka menyetujuinya. Saya pun menghubungi teman-teman alumni eks kuliah dulu, apakah mereka bisa turut dalam perjalanan backpacker pertama saya ini. dan beberapa diantara pun menyetujui untuk turut serta. Karena rencana perjalanannya liburan awal tahun, maka kami perkirakan pasti banyak sekali pengunjung dan kami khawatirkan penginapannya sangat ramai, jadi 1,5 bulan sebelumnya kami sudahbooking penginapan dengan harga Rp. 400.000,- di Pondok Adi, sebenarnya jika tidak pas Liburan Pondok Adi bisa ditawar dengan harga Rp. 300.000,-

Perjalanan kami mulai pada tanggal 31 Desember 2009 Pukul 19.30 WIB dari Kos di Jalan Batu 3, kami ber Empat, Yayah, Ririh, Hijrah dan saya sendiri menuju kota Depok di Kosnya Rosita dengan kereta Ekspres dari gambir dan bertemu dengan Anug disana. Kami memutuskan berkumpul di Depok untuk naik kereta pertama menuju Bogor agar bisa mengejar Bis ke Surade yang pagi.  Jakarta sudah mulai menampakkan kemeriahan tahun baru Masehi 2010, saat semua orang berbondong-bondong menuju Monas ke Pusat Keramaian, kami meninggalkan keramaian yang tak pernah habis pikir untuk apa.

Pukul 21.00 kami tiba di kos Rosita, karena sebelumnya komunikasi kami hanya lewat telepon dan email, disini kami merencakan tujuan wisata Ujung Genteng yang kami kunjungi dan Biaya yang harus kami keluarkan, serta berbelanja beberapa camilan untuk Perjalanan besok. Anug baru tiba pukul 22.15 WIB. karena pagi tadi saya mendapat oleh-oleh Empek-Empek dari teman yang dinas ke Jambi, kami pun menggorengnya dan dimakan ramai-ramai, memang tak ada yang lebih nikmat dari a makan ramai-ramai dan berebut dengan teman. hingga kami tidak menyadari bahwa tahun menurut hitungan masehi sudah berganti, kami baru sadar saat suara kembang api saling bersahutan di jalanan Depok, karena sangat ramai kami baru bisa tidur jam 01.30 WIB.

Pukul 03.00 WIB Alarm berbunyi, mengaharuskan mata untuk terbuka, kami pun bergantian mandi, karena kereta pertama ke Bogor Pukul 05.30 WIB, kepala pening penulis pun tak bisa dihindari hanya dinikmati karena kurang tidur. Pukul 05.10 Kami berangkat menuju Stasiun Depok. dengan kecepatan 20 km perjam, karena takut ketinggalan kereta. tiket kereta ekonomi Depok-Bogor Rp. 1.500,- per orang, tepat Pukul 05.35 WIB kereta datang, kami pun segera naik dan mencari tempat duduk.

Sampai stasiun Bogor Pukul 06.05 WIB kami segera naik angkot menuju terminal Baranang Siang Bogor, dengan biaya sekitar Rp. 2.500,- perorang. Sesampai diterminal kami segera Mencari Bis Jurusan Bogor-Surade, sebenarnya tarif perkiraan kami hanya Rp. 25.000,- tapi mungkin karena ini musim Liburan jadi tarifnya naik menjadi Rp. 35.000,-. Kami berenam sebenarnya ingin naik Bis selanjutnya saja, tapi karena kenek bisnya meyakinkan kami semuanya dapat tempat duduk, maka kami naik bis yang pertama. dan alhasil karena penuhnya Bis dan medan perjalanan yang tidak kami perkirakan sebelumnya, serta lamanya perjalanan, 3 diantara kami mengalami mabuk darat, termasuk saya sendiri sampai 5 kali muntah, sampai tak ada lagi yang tersisa isi perut. mungkin karena awalnya sudah sakit kepala dan duduk dibelakang yang banyak anginnya dan tepat diatas roda sehingga goncangan bis dijalan berliku jadi berdampak berkali-kali lipat (ha2 padahal hanya alasan karena mabuk)

Sekitar Pukul 12.00 kami tiba di termuinal Surade, terminal kecil dengan minim angkutan, hanya terlihat beberapa Bis antar kota dan beberapa angkot. Karena sudah dapat referensi harga sebelumnya dari teman kantor yang ke Surade, kami segera menawar carter angkot untuk 2 hari ini, karena hari pertama hanya setengah hari kami mencarter dengan harga 150rb, dan pada hari kedua 200rb. Setelah mendapat carteran angkot pak Akung kami segera ke penginapan Pondok Adi untuk istirahat sebentar dan makan siang. karena perjalanan yang jauh dan berliku sesampai diPondok kami segera teler dan tidur. Penginapannya Lumayan berbentuk rumah panggung dengan 2 kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan sebuah wastafel, enaknya semua dinding pondok dari bambu, sehingga terkesan alami seperti di desa. Maklum kami berenam adalah anak desa sejati he2.

Pukul 16.00 WIB kami merencanakan ke Pantai Cipanarikan melihat Golden Sunset, tapi tidak semua yang direncanakan dapat dilaksanakan, karena ketidak tahuan kami akan tempat-tempat wisata di Ujung Genteng, setelah melewati jalanan tanpa aspal bahkan banyak genangan air dimana-mana kami sampai disuatu tempat yang akhirnya kami tahu adalah tempat pelepasan tukik (anak penyu) di Pangumbahan. agak kecewa juga awalnya pada sopir angkotnya karena tidak sesuai keinginan kami. tapi ya sudahlah, karena sampai situ jam 16.30WIB setengah jam lagi pelepasan tukik-tukik ke laut yang sepertinya seru juga, pantai berpasir putih dan luas sekali membuat kami terlena. seperti biasa dan sebelumnya sudah direncanakan kami berfoto-foto dipantai hingga menjelang senja. Sebenarnya awalnya kami tidak berencana untuk berbasah-basahan tapi karena pesona ombak dan buihnya tak bisa kami tolak akhirnya kamipun saling menceburkan diri ditepi laut, pantai pasir putih.

Setelah mentari tenggelam digaris laut kami pun pulang ke penginapan, karena hanya ada satu kamar mandi kami pun bergantian mandi, padahal baju kami sudah basah semua, berrrrrr dingin. karena kami kelaparan dan capek keluar jalan-jalan kami pesen mi kuah di penginapan. dengan saos dan kecap yang ternyata dimasukkan chass yang kami makan, he2 capek deh….

Sabtu pagi tanggal 2 Januari 2009 sekitar pukul 05.30 Wib kami berjalan-jalan di tepi pantai Aquarium dan biasa pasti acara foto-foto tak pernah kelewatan, kami harus berjalan-jalan agak jauh untuk cari Sarapan, dan ternyata kami hanya menemukan bubur ayam untuk sarapan, yah karena tak ada pilihan lain akhirnya kami pun sarapan bubur sarapan. pukul 08.00 WIB Angkot yang kami carter sudah datang, tapi karena kami baru sampai dari jalan-jalan, kami meminta angkot untuk menunggu, sekitar 1,5 jam kemudian baru kami siap semuanya, perjalanan kami awali ke Goa Sungging. Untuk menuju Goa kami harus berjalan melewati pematang sawah, dan sungai kecil, suasana pedesaan sangat terasa disini, sesampai di mulut Goa kami dikenalkan dengan juru kunci Goa, dan disiapkan lampu petromaks untuk memasuki Goa, setelah semuanya siap kami memasuki mulut goa yang awalnya turun kebawah,  mulut goa sudah diberi pintu dari besi, serta kunci gembok besar tergantung di pegangan pintunya. Didalam goa sangat kering dan sangat banyak jalurnya sehingga mengingatkan saya dan hijrah pada waktu kuliah dulu, saat kami hanya tau ketawa-ketiwi dengan hati berdebar didalam goa yang belum kami kenal. Tapi perjalanan goa saat ini beda, kalau dulu kami menjadi pemandu untuk diri sendiri dan rombongan, dengan peralatan lengkap heatlamp, sepatu boat serta weebing dan carmantel, sekarang kami jalan didalam goa dengan pemandu didepan dan berjalan dijalur yang aman, serta menghindari jalur-jalur gelap yang tak tau kemana ujungnya dan sungai bawah tanah yang terdengar bergemuruh. Lucunya saat kami memasuki salah satu lorong goa, kami bertemu dengan salah satu rombongan penelusur goa lainnya, sebenarnya inilah keinginan sejak lama saya setelah kenal dengan kegiatan caving, yaitu bertemu rombongan penelusur goa lainnya di dalam goa, he2.  Kami memutuskan hanya separuh jalan saja karena waktu yang tidak memungkinkan dan ada beberapa teman yang rewel pengen segera keluar goa, sepakat kami keluar goa, karena jika menuruti keinginan hati pasti tak kan ada habisnya, setelah keluar kami istirahat sebentar di gubuk diatas pintu goa, tanpa prasangka yang negatif bendahara rombongan kami Rosita sudah menyiapkan uang Rp 50.000,- untuk juru kuncinya, tapi tak disangka-sangka sebelum dia menyelipkan uang ditangan juru kunci, dia sudah dibisiki biaya masuk goa sebesar Rp. 150.000,-

Sebuah ongkos antar yang fantastis terutama untuk kami alumni politek yang tak pernah bayar untuk masuk goa, tapi sekali lagi teman kami rosita membuktikan kalau dia adalah bendahara yang handal dia menawar menjadi 100rb, yah ikhlas gak ikhlas kami memberikan uang itu, untuk sebuah pengalaman masuk goa,he2

Dari goa Sungging kami meneruskan perjalanan ke air terjun Cikaso, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, karena hanya sarapan bubur ayam, cacing-cacing dalam perut kami sudah protes meminta jatah mereka, sebagai tuan yang baik kami senantiasa memenuhi keinginan para cacing dengan makanan yang lezat, tapi karena merasa kurang pas dengan masakan di curug cikaso, kami menenangkan cacing-cacing kami dan berjanji memberi mereka makan nanti di surade setelah dari curug cikaso. Untuk menuju curug kami diharuskan naik perahu dengan tarif Rp. 60.000 per perahu dan biaya masuk Rp. 2.000 per orang, sehingga jika dijumlah 6 orang harus membayar Rp.76.000,- tapi karena ada 2 orang muda-mudi yang ingin ngirit, daripada nyewa perahu 60rb untuk berdua mereka pengen ikut rombongan kita yanng berenam, sehingga kami membayar 60rb dan mereka 16rb untuk berdua, he2 tapi konsekuensinya mereka yang harus menyesuaikan dengan kami.

Kami naik perahu hanya sebentar saja tidak sampai 15 menit perahu yang kami naiki sudah menepi, membuat kami tersenyum kecil, tapi ya sudah lah, menuju ke curug kami jalan sekitar 200-300 meter, sesampai di curug kami disuguhi 3 air terjun saling berdampingan, 2 air terjun besar dan satu yang agak kecil agak jauh dari keduanya, keseluruhan pemandangan di curug cikaso sungguh indah dan tampak menyegarkan,  aliran air yang mengingatkan saya pada salah satu ayat suci yang mengatakan bahwa diSurga nanti mengalir sungai-sungai dibawahnya, ya Allah terimakasih atas sesgala karunia dan anugrahMu. Air di curug Cikaso sangat bening dan dingin  membuat salah satu teman kami tidak sabar untuk menceburkan diri di bawah curug, sayang kami datang saat liburan jadi banyak sekali pengunjung curug. Sehingga kurang leluasa untuk bermain air. Pukul 14.00 WIB kami beranjak dari curug, beli buah manggis di warung tepi curug dan minum teh anget, nyam-nyam mengingat kami belum makan siang, cukuplah untuk menenangkan bunyi dalam perut kami. Kami naik perahu untuk kembali ke parkiran angkot carteran, dan kami menyadari sesuatu yang janggal dari perjalanan naik perahu ini. Antara tempat parkir mobil dan curug tidak dipisahkan oleh sungai, tidak jauh dan kami rasa bisa dilalui dengan jalan darat, dengan melalui ladang dan kebun setempat, lalu sebenarnya untuk apa naik perahu? Wah2 sekali lagi kami dikecewakan atas pengelolaan tempat wisata di Ujung genteng. Sebenarnya kami seperti wisatan lain, yang bersedia membayar biaya masuk wisata, tapi ya sewajarnya saja. Jika pengelolaan yang baik bagi tempat-tempat wisata di Ujung Genteng, kami yakin pasti lebih maju dan mengundang lebih banyak turis lainnya.

Setelah makan siang di Surade kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Jakarta, karena sudah pukul 16.00 WIB untuk kembali ke Jakarta kami hanya bisa naik mobil Elf jurusan Sukabumi. Ongkos untuk ke Sukabumi Rp. 22.000,- saya baru menyadari bahwa perjalanan yang kami lalui kemarin sungguh indah, dengan jalan berliku diantara perkebunan teh yang terhampar berbukit-bukit,, mungkin saat beranngkat saya terlalu sibuk dengan isi perut yang ingin keluar dan goncangan-goncangan bis yang berkesudahan sehingga tak menyadari panorama alam sepanjang perjalanan. Jam 20.30 WIB kami sampai di Sukabumi, karena kami benar-benar asing disini, dan malam juga sudah larut, kami berusaha terlihat setenang mungkin jangan sampai mengundang perhatian orang-orang yang berniat kurang baik. Kami bertanya bis ke sukabumi-jakarta yang ternnyata sudah habis. Dan ada 2 alternatif lainnya untuk ke Jakarta, yang pertama naik Elf  jurusan Bogor yang ada di terminal turun di Ciawi untuk naik bis jurusan Bandung-Jakarta, yang kedua jalan agak jauh dipersimpangan lampu merah, menanti bis jurusan Bandung-Jakarta. Kami memillih alternatif kedua karena lebih praktis langsung ke Jakarta, walau jalan ke persimpangannya di ikuti mobil Elf jurusan Bogor. Cuek aja lah. Hampir tengah malam kami tiba di terminal kampung rambutan, terminal yang harus membuat kita ekstra hati-hati, karena jarak antara Kampung Rambutan-Depok lebih dekat kami memutuskan untuk ke menginap di Depok dulu, baru keesokan pagi pulang ke kos masing-masing.

BROMO

Akhir Pekan bulan juni 2009 keinginanku waktu SD, 15 tahun berselang,Alhamdulillah dikabulkan, ke gunung Bromo, berawal dari rabu pagi, 17 Juni 2009, dipanggil atasan ke dalam ruangan dan besoknya harus ke kantor daaerah di kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Seperti tugas-tugas lainnya, aku hanya berpikir, masak saya Cuma ke Brondong langsung balik Jakarta, kemudian aku berencana mengunjungi teman kuliah di Karanganyar yang sudah sejak wisuda tidak pernah bertemu, itu rencana awal. Hari itu bersama teman seperjalanan menyiapkan semua hal yang akan dibawa ke Brondong.

Kamis pagi tiba-tiba teman seperjalananku ngomong ke aku “na bukannya kamu dulu pernah bilang, kalau ada perjalanan ke Surabaya mau ke Bromo? Kok sekarang mau langsung balik” ting-ting, ide-ide perjalanan segera muncul dalam otakku yang kecil. Awal penugasan yang tadinya tidak bersemangat tiba-tiba membuatku segera searching informasi tentang Bromo dan menyusun serangkaian rencana yang tidak tulus mengerjakan tugas negara,he2

kami mendiskusikan rencana perjalanan nanti sore, dengan perjalanan kereta, dari Jakarta kami sudah menelepon sewa mobil yang Alhamdulillah mendapatkan harga yang murah, sewa mobil dikarenakan perjalanan kami yang cukup jauh, dari Surabaya balik arah ke Brondong, sorenya kami langsung melanjutkan ke Bromo. Jadi kami pikir sewa mobil 1,5 hari sudah cukup untuk mengantarkan kami dari Bromo kembali ke Surabaya untuk balik Jakarta malam sabtunya.

Ke Bromo mengingatkanku akan studio alam yang diciptakan Allah dengan kebesaran dan keindahan yang tak pernah bosan untuk di abadikan di kamera. Ngomong-ngomong soal kamera disinilah ketidak syukuran dan ketidak sabaranku di uji karena aku berpikir untuk memfoto gunung Bromo tidak cukup dengan kamera HP sony ericsonku, aku ingat teman kantor yang punya kamera, mau pinjam tapi ternyata dipakai, kalau mau pinjem teman yang lain kantor kayaknya sudah tidak ada waktu lagi, karena keretanya nanti sore jam 5. akhirnya jam 2 siang aku keluar kantor dan berkeliaran di sebuah mall dekat kantor untuk mencari kamera yang murah,he2 tapi ternyata setelah berdebat harga dengan mas – mas di sebuah toko elekronik, akupun mendapatkan kamera baruku, disini terbukti salah satu hambaNya yang tidak lulus uji kesabaran.

Sampai di Surabaya kami mampi ke sebuah masjid di Surabaya untuk mandi dan istirahat sejenak. Masjid kuno yang bersih, dengan ukiran – ukiran kayu yang indah, dan masih dipertahankan keasliannya.

Dari Surabaya kami segera meluncur ke Brondong, melewati hutan jati, dan pinggiran pantai karena ini merupakan jalur pantai utara jawa. Kami ke kantor Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong, yang terdiri dari dua satker, satker Perikanan Tangkap dan satker Pengawasan Perikanan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. Disana sedang membangun sebuah Pelabuhan yang kalau di lihat dari Master plannya sangat bagus yang seperti membentuk kotak tapi ada katupnya, untuk dilewati kapa-kapal yag akan berlabuh.

Setelah selesai segala urusan di Brondong, karena takut kemalaman dijalan kami langsung meluncur menuju pegunungan Bromo, makan siang sekitar jam tiga kami mampir di tanjung kondok, di daerah Lamongan. perjalanan ke Bromo kami lewat jalur Tol Sidoarjo, sepanjang perjalanan di Sidoarjo kami disuguhi pemandangan miris, tanggul yang tinggi untuk menahan lumpur panas Lapindo. agar tidak terkena macet kami lewat jalur alternatif jalan dusun. Memasuki daerah pegunungan hawa dingin mulai terasa dan jalanan sudah mulai berliku dan curam, untung saja sopir kami sudah profesional dan asli Surabaya, jadi kami tenang saja, bahkan tidur sepanjang perjalanan, he2

Sekitar Jam delapan malam kami tiba di Bromo, begitu mobil sewaan kami memasuki areal tempat wisata, kami dikerubuti orang-orang setempat menawari penginepan berbagai harga, ada yang rumah dengan 2 kamar, 4 kamar dan banyak lainnya, karena kami cuma berdua kami memutuskan untuk menginap dihotel saja, yang menurut kami lumayan mahal dengan harga Rp. 400.000,- kami hanya mendapat fasilitas air  hangat, tak ada tv dan ac, karena hawanya sangat dingiiiiin banget.

sebelum tidur kami ditawari sewa mobil jeep sewanya sekitar Rp. 375.000,- tapi karena kami cuma berdua kami memutuskan untuk sewa ojek untuk ke penanjakaannya jam 4 pagi dengan biaya relatif lebih murah sekitar Rp. 100.000,- per motornya.

jam empat pagi kami dibangunkan penjaga hotel, bersiap-siap ke penanjakan view, perjalanan ke sananya lumayan seru, karena hari masih gelap dan tidak tau medan, saya hanya mengira-ngira apa yang kami lalui, melewati padang pasir, dan jalan yang menanjak keatas terus tanpa jeda membuat saya tersenyum sepanjang perjalanan, karena baru sekarang saya merasakan naik gunung tanpa setetespun keringat, ha2. sampai dipenanjakan sudah banyak turis asing dan lokal yang berebut mencari tempat untuk melihat mentari pagi terbit dari ufuk timur. kami pun tidak mau ketinggalan,  beruntung tukang ojek kami menunjukkan tempat terbaik untuk mengintip matahari terbit, paling depan dan dibawah pagar, sehingga tidak perlu berdesak-desakan dengan turis lainnya.

kami menunggu dalam dinginnya pagi, menunggu raja siang yang perlahan-demi perlahan memperlihatkan cahaya  merahnya, garis langit merah disertai semburat awan-awan yang kemudian memerah, merangkak naik seolah tahu banyak menantinya terbit.

tapi masih ada lagi yang membuat kami bersyukur bisa melihat keagunganMu, begitu mentari menyinari langit tersibaklah semua keindahan yang Engkau karuniakan kepada kami,

pegunungan bromo, pemandangan yang selama ini hanya saya lihat di tv, syukur Alhamdulillah diberi kesempatan untuk melihatnya sendiri. setelah dipenanjakan view, perjalanan kami lanjutkan ke gunung bromo, disana kami menyewa kuda untuk mencapainya, untuk sewa kuda sebenarnya bisa ditawar sampai Rp.50.000,- tapi karena kekurangtahuan kami sehingga sewa kudanya mencapai Rp.100.000,-.  melewati lautan pasir kuda yang kami naiki berjalan dengan santainya, tapi sebenarnya kami agak khawatir juga kalau-kalau kuda yang kami naiki protes atas kelebihan beban mereka,ha2

kawah bromo masih sangat aktif  ini kelihatan dari asap putih yang selalu dikeluarkannya dari dasar kawah dan jika kita berlama-lama di tepi kawah pasti akan tercium bau belerang yang lama-lama membuat pusing. dikawah bromo juga banyak sekali turis asing, salah satu yang membuat kami salut adalah pasangan suami istri yang sudah tua melakukan perjalanan yang jauh dari negara mereka, seolah-olah benar-benar menikmati hari tua yang begitu menyenangkan.

asap dari gunung bromo inilah yang kami lihat di penanjakan view, asap putih yang membumbung tinggi diantara pegunungan bromo.

dari gunung bromo kami melanjutkan perjalan ke lautan pasir berbisik, disana seolah – olah kehidupan hanya milik angin dan pasir, yang saling berbicara dan bercanda dalam bahasa kesunyian

setelah puas foto-foto disana, kami kembali ke penginapan untuk sarapan dan bersiap-siap kembali ke jakarta. di depan penginapan kami juga disuguhi pemandangan yang menakjuban deretan pegunungan bromo diantara padang pasir dan gunungnya yang menyatu dengan langit biru tanpa batas

sehabis sarapan, dan mandi air dingin yang berrrrrrrrrrr, dingin sekali kami tidak lupa mencoba mengabadikan karuniaMu yang tak pernah ada batasnya. dan ini menjadi pengalaman pertama bagi saya pribadi, naik gunung dengan biaya termahal dan keringat terkering seumur hidup, he2

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.