Martiana's Weblog

Suatu sore

Posted by: martiana on: Desember 23, 2008

sore itu aku sedang menikmati senja di parkiran monas, mencari sinyal hot spot untuk cari gratisan, sinyal timbul tenggelam, mengajak bercanda denganku yang sedang tengelam dalam rasa  ingin tahu, tiba-tiba “pet” baterai habis, lap-top sudah tidak mau melayani tuannya yang masih asyik dalam rasa penasaran, tapi ya sudah lah, aku tetap menikmati sore itu diplataran Irti Monas,

sambil bercanda dengan temanku, aku mengamati sepasang anak kecil yang bermain, lari kesana, kemari dan tertawa tanpa ada hal yang lucu menurutku,

bocah laki-laki itu kira-kira berumur lima tahunan, lincah dan tak pernah bisa diam, kaos putih tapi sudah tampak kecokelatan, rambutnya kemerahan karena sinar mentari ibukota, celananya pendek dan tak kalah lusuhnya dengan kaos yang dia pakai, tapi tak kulihat guritan kesedihan diwajahnya yang masih bocah, bahkan dia menikmati berlari-larian di lapangan yang beralaskan beton itu, dan tentu saja dengan kaki telanjang.

anak perempuan itu sedikit bungkuk dibagian punggungnya, karena itu kurasa menggangu pertumbuhan tinggi badannya dan membuatnya agak pincang sehingga susah berjalan, rambutnya lurus sepundak, dia mengenakan baju yang kurasa berwarna pink , jalannya agak  lambat, tapi dia berusaha mengimbangi temannya saat berlarian walau dengan susah payah, dia tetap berjalan, tiduran diatas gulungan terpal yang belum dipasang petugas. dan dia tampak sangat menikmatinya, yang bahkan kurang bisa disebut arena untuk bermain.

sore itu sangat rame, maklum malam minggu, banyak anak muda yang keluar dan keluarga yang sedikit ingin melepas rutinitas seharian, walau sangat rame dua anak kecil itu asyik bermain tanpa menghiraukan kami disekitar tempat itu, hatiku jadi miris, tempat ini kurang cocok untuk anak sekecil mereka, sangat bising dan begitu hiruk pikuk banyak orang. tapi mereka mencoba menikmati segala keterbatasan yang mereka miliki, tanpa mengeluh dan tanpa rasa bosan mereka selalu tersenyum, tertawa dan bercanda, saling berkejaran kesana kemari, membuat mataku tak bisa melepaskan pandangan dari mereka berdua.

saat mereka sedang bercanda, datang dua orang kakak beradik laki-laki yang umur dan tinggi badannya sedikit lebih tinggi dari mereka berdua. sang kakak tiba-tiba menghardik dan mengejar bocah laki-laki itu, anak perempuan itu dengan susah payah mengejar mereka berdua dan berusaha menghadang kakak laki-laki tersebut sambil berteriak “jangan-jangan”, saking takutnya bocah laki-laki itu terduduk dan menangis sebagai permohonan ampun, anak perempuan tadi berhasil menghadang kakak laki-laki tersebut dan bilang “jangan, ntar gue bilangin ayahnya lho” sambil  memandang tajam pada kakak laki-laki yang tinggi badan dan berat tubuhnya bahkan lebih besar dari dia, kakak laki-laki yang kuperkiran baru berumur tujuh tahunan itu terdiam dan memandang gadis kecil itu, semenit kemudian dia mengajak adiknya pergi menjauh dari dua teman kecil itu. gadis kecil itu mendekati temannya yang masih menangis dan membujuknya untuk diam, seakan berkata ” tenang teman, semua sudah aman, tak perlu lagi kau merisaukannya, bahaya sudah pergi, jangan menangis lagi”

aku terdiam memandang semua kejadian itu, hanya dalam waktu beberapa menit aku dibuat tak bisa berfikir, bahkan anak sekecil itu pun berani membela seorang kawannya saat dalam bahaya, jika dibandingkan dengan tubuh bungkuknya yang kelihatan ringkih, gadis kecil itu mempunyai semangat yang luar biasa, dia berani berdiri didepan seorang anak yang bahkan dapat menyingkirkannya dengan sangat mudah, dengan mulut mungilnya dia bisa menenangkan temannya yang menangis ketakutan. tapi dia tetap semangat dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, aku jadi berfikir bagaimana dengan kita yang notabene mengaku sebagai “orang dewasa” aku rasa kalah jauh dengan sikap bening gadis kecil tadi, kadang  kita terlupa akan siapa kawan dan siapa teman, dan membuat kita tak bisa membedakan mana kebenaran yang hakiki dan mana sesuatu yang harus kita jauhi.

sore yang menakjubkan, dan malam yang indah, kunikmati gemerlapan bintang yang redup tertutup oleh awan, terimakasih Allah atas segala nikmat dan anugerahMu,

Tinggalkan Balasan