Posted by: martiana on: Juli 24, 2008
Aku melihatnya kemarin, duduk diujung jalan menanti mentari senja tenggelam diujung langit, entah apa yang dipikirkannya, lelaki dengan kemeja putih, dan sarung cokelat bermotif kotak-kotak, wajahnya bersih dan tatapannya penuh tanda tanya, tapi tak tampak dia ingin mengutarakan isi hatinya, dia hanya diam dan melihat kejauhan seolah menanti seseorang tapi kurasa dia berbicara dengan langit sore, entah apa yang dipikirkannya.
Aku tiba didesa ini saat senja mulai menggusur siang, dan manusia pertama yang kutemui adalah laki-laki dengan baju putih dan sarung kotak-kotak itu, padanya lah aku bertanya dimana rumah pak lurah, tempat aku menginap malam ini.
Menjelang magrib dia bergegas meninggalkan ujung desa, menuju sebuah surau kecil tak jauh dari ujung desa, surau yang terbuat dari kayu dengan gaya panggung, berbentuk persegi kecil dengan ukuran delapan kali delapan meter, didalam surau kayu itu batas antara wanita dan pria hanya dibatasi dengan selembar kain setinggi 1,5 meter berwarna putih kecokelatan, tapi tampak bersih yang ditalikan dari ujung ke ujung dinding kayu surau ini. mimbar disurau itu juga sederhana, terbuat dari kayu tua dengan ukuran yang sangat sederhana tapi tampak anggun dan berwibawa, lantai surau juga terbuat dari kayu tua yang kuat, sehingga membuat nyaman seberat apapun orang yang sholat diatasnya, dinding surau terbuat dari kayu tanpa dicat, terlihat warna asli surau yang cokelat kayu, dipinggir sebelah kiri tampak rak kecil dari kayu, di rak atas ada tiga buah Al’quran yang warna kertasnya sudah cokelat tapi masih tertata rapi, tidak kelihatan kertasnya rusak, di rak kedua ada beberapa tumpukan sajadah dan sarung yang kelihatan sudah lama. keseluruhan surau itu menampakkan kesederhanaan yang terlihat kuno dan bersih, tak aku pungkiri aku terpana melihat surau kecil ini,aku merasa baru benar-benar pulang ke rumah Allah, sangat sederhana tapi membuat betah didalamnya, didepannya ada sebuah taman kecil dengan bunga-buangaan berwarna-warni, tapi tampak olehku tanaman lengkuas, kunyit, dan rambatan tanaman pare yang saling berinteraksi satu sama lain tampak hijau serasi, surau yang kecil, sederhana dan bersahaja.
lelaki dengan baju putih dan sarung cokelat kotak-kotak itu mengumandangkan adzan yang membahana dilangit senja desa ini, suaranya merdu, dan menghanyutkan siapapun yang mendengarnya, suara itu pula yang menyadarkanku sudah waktunya menghadap sang khalik dan bersujud syukur atas segala kaurniaNya.
Aku masih melihatnya saat senja datang lagi menyapa desa ini, dia tetap seperti posisinya kemarin menghadap ujung jalan, dengan tatapan yang sabar menunggu, entah apa yang ditunggunya, sesekali dia menghela nafas, dan tertunduk melihat bebatuan diujung kakinya, dan melihat ujung jalan lagi, dan menuju surau kecil setelah senja benar-benar pergi beranjak mengantarkan malam, mengumandangkan adzan magrib, berharap suaranya terdengar oleh seseorang yang selalu dinantinya.
Aku masih tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki tua itu, hingga hari terakhirku di desa itu, aku masih melihatnya diujung jalan saat senja mulai turun menanti kabar dari sang buah hati yang meninggalkannya pergi melewati ujung jalan desa ini, baginya dunianya adalah desa kelahirannya, dan buah hatinya pasti akan pulang, dia selalu berpikir seperti itu, karena dia yakin tak ada burung yang tak kembali ke sarangnya, dan dia adalah sarang bagi buah hatinya, dia yakin itu.