Martiana's Weblog

father and daugther

Posted by: martiana on: May 8, 2011

mengalun suara doni dan gita gutawa di winampku,

“Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu”

Bapak beribu ingatan mengalir dalam kenanganku, bagaimana engkau mengajarkan aku mengaji dengan sabar, suaraku yang terbata-bata melafalkan surat-surat pendek, dengan pelan kau menunjukkan ayat mana yang harus kubaca, saat aku sudah mulai menyerah dan malas belajar ngaji, kau bilang “bisa bukan dari kita sekejap belajar, tapi melalui proses, dan waktu yang tidak sedikit”  otak kecilku langsung menangkap perkataan itu, dan mulai saat itulah aku mulai belajar melawan diriku sendiri,

saat anak-anak yang lain berlama-lama nonton tv, kau mematikan tv begitu adzan magrib terdengar, dan dengan terpaksa aku angkat tubuh kecilku untuk berwudhu, sholat berjamaah. jika anak-anak yang lain nonton sinetron bersama ibu dan bapak mereka, kami anak-anakmu kau ajari melihat berita, memperlihatkan pada kami ada dunia lain diluar sana,  dari berita tentang perang irak yang tak berkesudahan dan kehidupan lady diana mewarnai malam-malam masa kecilku. walaupun waktu itu aku tidak tau dimana itu letak irak dan siapa itu lady diana, dan aku hanya ikut nimbrung dan mencoba mengerti arah apa yang dibicarakan di televisi.

Kau ajarkan kepada kami bagaimana menyetrika baju dengan rapi, safari selalu licin dulu sebelum kau berangkat mengajar, tapi sepertinya ilmu menyetrika rapi itu hanya turun ke Puput, aku hanya setengahnya saja bisa. kau selalu mengajarkan kepada kami tentang kerja keras, salah satu jemari tanganmu menunjukkan bagaimana kau mempertaruhkan dirimu untuk kami anak-anakmu. belum banyak yang bisa aku perbuat untuk bapak, sekedar melihatmu tersenyum itu adalah kebahagiaanku. kau yang selalu berkata “ngibadahe ojo lali”di telpon, suara itu selalu membuat matakku menjadi buram, kau yang tak bisa menahan tangis ketika rindumu padaku sudah tak terbendung dan tak mau berbicara padaku di telepon, aku kangen bapak,

insyaAllah, semoga Allah selalu melindungi kau dan ibu, memberikan umur yang barokah, dilapangkan kehidupan didunia dan akhirat,  dan kami anak-anakmu semoga menjadi anak yang berbakti, soleh dan solehah, Engkau adalah sumber inspirasi kami, bagaimana kau membagi waktumu antara mengajar dan berwirausaha untuk mencukupi kehidupan kami, kau masih berkata tidak apa-apa saat sakit, maafkan kami anak-anakmu yang kadang masih belum bisa memenuhi harapanmu, maafkan kami yang kadang masih membuatmu kecewa, maafkan kami yang kadang masih membuatmu lelah pada tubuh rentamu, kami akan tetap berusaha membuatmu tersenyum bahagia melihat kami, Bapak, Ibu semoga Allah senantiasa merahmati kalian dengan kesehatan, kebersihan hati dan rejeki yang barokah amin….

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu….

(yang terbaik bagimu by ada band)

Tags:

catatan diakhir pekan

Posted by: martiana on: May 1, 2011

gunung putri

sabtu pagi kemarin, saat di masjid pln handphone ku berdering, aku lihat dilayar hanya nomor yang tertera tak ada nama, saat ku ucapkan salam disana tidak membalas, ternyata kakaknya temen yang tidak bisa membalas salam, atau tidak mau sebenarnya. Dia bertanya tentang izin naik ke gunung Gede, sekalian mengajak nanti tanggal 7-8 Mei, dengan tertawa aku menolak ajakannya, alasanku aku sudah terlalu berat untuk naik gunung, apalagi jalur gunung putri nanjak tiada abis, diapun memaklumi, dan menutup telepon dengan sopan.

tradisi merapi

malam ini, pukul 19.50 hpku bergetar mengalunkan intro lagu “disguise” lene marlin, ada sms masuk, dari seorang temen yang sangat semangat meminta aku datang ke tradisi merapi tanggal 7-8 Mei mendatang, padahal dari kemarin aku sudah menolak dan tidak bisa ikut karena suatu hal. tapi dia tetap melancarkan bujuk rayunya agar aku ikut, tapi insyaAllah hari sabtu nanti memang tidak bisa kutinggalkan, aku ingin bersama orang-orang itu duduk dimasjid membaca Alqur’an, bukan apa-apa rasanya aku tentram bersama-sama orang yang insyaAllah diberkahi Allah itu, walau aku tidak mengenal mereka, kata pepatah jika kita ingin berbau harum berkawanlah dengan penjual parfum. mungkin aku ingin sedikit tertular bau harum itu.

maaf kawan, maaf sahabat bukannya sekarang aku menghindar untuk ikut tradisi merapi, atau sudah tidak ingin lagi naik gunung, tapi mungkin waktu nya yang kurang tepat. pada Alamlah aku belajar mengenal tuhan, padanya aku belajar mengucapkan kalimat Illahi, setiap nafas yang kuhirup, setiap tetesan keringat, setiap beban yang kupanggil, aku ucapkan Laillahaillallah, maka aku akan kuat, sebenarnya itu lah rahasiaku setiap kali melangkahkan kaki ke Alam ciptaannya, tanpa mengeluh kenapa puncaknya belum terlihat, hanya memandang ke depan dan berjalan, karena ke gunung ini adalah pilihanku, tak ada yang memaksa, aku yang mau, dan aku mohon perlindunganMu ya Allah.

banyak orang bilang kenapa capek-capek naik gunung, toh tak ada yang didapat. jam 2 malam kita naik, mending dibuat sholat lail, ya ucapan itu tidak salah, tapi juga tidak benar seratus persen. percayalah banyak hal yang bisa kita pelajari di Alam Raya ini, mendengar suara desiran angin, suara serangga yang senantiasa bertasbih namaNya, melihat bintang gemintang yang maha luas, mengenal pribadi kita sendiri, egoiskah kita?, beranikah kita?, kita mungkin akan kaget dengan diri kita sendiri. alam raya dan kehidupan ini adalah sekolah tinggi yang tak pernah ada habisnya untuk kita pelajari, sampai maut menjemputpun mungkin kita tak pernah selesai mempelajarinya. kawan tak ada salahnya untuk kita belajar pada alam, menghormatinya berarti kita menghormati diri kita sendiri, melestarikannya berarti kita mempertahankan kelangsungan hidup anak cucu kita, untuk teman – teman yang akan naik gunung Gede dan ke Tradisi Merapi ingat 3 hal, Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan mengambil sesuatu kecuali gambar dan jangan membunuh sesuatu kecuali waktu, dan satu lagi jangan lupa, dimanapun kita berada kapanpun itu jangan lupa bahwa kita makhluk Tuhan, jangan lupakan bahwa kita punya kewajiban, Sholat dan berbuat baik pada apapun itu….

Salam Lestari!!!

kita adalah keturunan surga

Posted by: martiana on: April 4, 2011

wah, lama sekali rasanya dah gak nulis kangen. berawal dari suatu hari 2 bulan yang lalu rasanya ingin sekali mendapat siraman rohani, maklum pupuk untuk jiwa sedang menipis dan terinspirasi dari buku “lima menara”, kuarahkan krusorku pada mesin pencari dan kuketik sebuah kalimat “pondok pesantren di jakarta” kutekan enter, segeralah eyang google mencarikannya untukku. banyak sekali yang ditawarkan eyang google untukku, yang kadang tidak masuk akal, karena semua yang berbau pondok pesatren otomatis masuk dalam daftar tawaran itu, dari daerah kuningan, bahkan jombangpun masuk, ck ck ck tapi aku tidak patah semangat tiap malam tiap ada kesempatan aku cari di web-web muslim yang aku tahu, tiba-tiba aku teringat pada daarut tauhid, biasa disana menyelenggarakan kajian-kajian lepas kerja, walau aku tahu di masjib BI tiap hari senin minggu ke tiga selalu ada, tapi aku lebih banyak tidak bisa datangnya dari pada bisanya. segera kuketik http://dtjakarta.or.id/ dan klick, mataku tertuju pada tulisan “Get strongs character! pesantren sabtu-ahad” apa ini? segera kupelajari infonya, kuajak teman sebelah kamar untuk mengikutinya. dan Alhamdulillah ya Allah Engkau selalu memberi jalan orang yang mencari jalan, padahal pendaftarannya kurang 1 minggu lagi, karena takut aku berubah pikiran (banyak alasan untuk menolak kebaikan) aku segera daftar dan transfer untuk biayanya, he2 itu suatu cara untuk memaksa diriku kembali ke jalan yang lurus.

awal maret pesantren kota itu dimulai, di pondok pesantren yang entah dimana aku tidak tahu, waktu itu aku menyebutnya di negeri antah berantah. Berangkat dari gambir jam 10 pagi sebenar sudah yakin kalau nyampe sana pasti telat, karena memaksa tubuh bangun pagi dihari sabtu ternyata sangat susah. berdasarkan sms yang kuterima 2 hari sebelumnya aku naik p20 untuk menuju lebak bulus, bis berjalan lambat, sampai di lebak bulus jam 12 siang, dengan bertanya pada beberapa orang, akhirnya aku naik angkot jurusan ciputat, sampai di pasar ciputat aku dan temanku bingung harus naik angkot jurusan bukit atau serua? entahlah karena ingin segera sampai mataku segera mencari mobil yang lebih efektif mengantarkan kami yaitu mobil biru angkutan public, taxi pun mengantarkan kami ke alamat pondok pesantren daarut tauhid jakarta, tidak sulit menemukannya, dan here we are kami sampai di depan pintu gerbang pesantren.

memasuki gerbang pesantren aku sempat deg-degan, pasalnya mbak-mbak disana sudah rapi dengan gamis dan jilbab lebarnya, sedangkan aku memakai celana, kaos dan gaya jilbab yang kupakai sehari-hari, ah saltum nih. hari pertama itu kulalui dengan belajar pelan-pelan beradaptasi dengan lingkungan, dengan orang-orang baru yang kutemui, materi thoharoh meluncur dari mentor, keluar masuk dari telingaku, untuk aku sudah membaca sedikit tentang thoharoh dari buku yang kubeli, jadi sedikit banyak mengerti. malam pertama di pesantren aku dikejutkan dengan seorang ustadz yang bertanya pada salah satu santri “sejak kapan kamu islam?” deg, aku terdiam walau pertanyaan itu bukan untukku, tapi kok rasanya menohok jantungku ya, aku islam sejak lahir, tapi apa yang kutahu tentangnya, salah satu santri akhwat ada yang mu’alaf dan sepertinya dia lebih tahu banyak tentang islam dari pada diriku yang notabene islam sejak lahir, ya Allah maafkan hamba, hamba malu,,, diakhir kajian itu kutulis dalam bukuku “selamat wahai diriku, kamu sudah menjadi muslim sekarang, semoga menjadi muslim sejati, a…mi…n”

mulai hari itu setiap sabtu ahad aku menolak ajakan teman, bahkan ditanya orang rumah “tanggal 22 nanti pulang gak?” maklum mereka lebih hafal tanggal merah daripada aku sendiri dengan jawaban yang tegas “saya pulang insyaAllah bulan Mei bu, mas, mbak” karena kerjaan dari senin-jumat yang kayak gak ada jedanya, sabtu ahad dilanjutkan dengan yang kusebut sebagai kegilaanku nomer 5 diminggu ke akhir maret aku tepar tak berdaya, mungkin juga karena malamnya aku kerja di luar kota  sampai jam 2 malam,  dan sabtunya masih harus lari-lari ngejar waktu dengan taksi menuju pancoran untuk ketemu sodara yang sedang wisuda di jakarta, sampai kos jam 2 siang, langsung tertidur hingga sore, begitu bangun aku segera sms mentor tidak bisa datang minggu ini, padahal minggu ini dimonas hanya berjalan 5 menit dari kos aja dah nyampe tapi kenapa diriku? kamu sangat malas untuk membangkitkan semangatmu? gassswatt nih, trio bandidos (iblis, setan dan Jin) mulai menyerangku.

karena khawatir trio bandidos menang sabtu berikutnya kupaksakan diriku untuk menuju pondok pesantren serua, rasanya kangen dengan suasananya. walau kurang tahu jalannya tapi kuputuskan untuk naik motor kesana, karena kalau naik bis, memerlukan waktu yang lebih lamaaaa lagi. padahal aku baru sekali kesana dan itupun naik bis, tapi sepertinya aku tidak kesulitan menemukan jalan kembali kesana, aku heran mungkin ini petunjukMu ya Allah karena biasanya kemampuanku otakku tidak secerdas itu untuk mengingat jalan, harus 3 atau 4 kali untuk mengingat jalan baru, lha ini baru sekali kok langsung ingat, terimakasih banyak ya Allah, segala puji bagiMu.

dan seperti awal aku ke pondok, aku kembali deg-degan, jam 13.45 waktu serua, aku sampai diparkiran pondok, kajian di masjid sudah dimulai, dengan tangan masih bergetar karena terlalu lama mengendarai motor aku ke toilet untuk ganti pakai rok!!!

Entah sengaja atau bagaimana, yang pasti di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Siang itu materi pertama dari mentor adalah sholat jenazah. aku yang dari lahir belum pernah sholat jenazah pelan-pelan melafalkan bacaan-bacaan sholat saat mendapat giliran menghafal, yang baru aku tahu kalau jenazahnya laki-laki hada mayyiti kalau perempuan hadihi mayitati, “ya Allah diriku, selama ini kemana aja?”. kajian setelah sholat isya gambar di monitor menunjukkan sebuah pemakaman yang salah satu lubangnya masih kosong.

ustadz bertanya “kita ini keturunan siapa?”

santri menjawab “nabi adam”

ustadz : “yakin keturunan nabi adam?”

santri : diam, biangung harus menjawab apa, toleh kanan, toleh kiri

ustadz : “nabi adam berasal dari mana?”

santri : “surga”

ustadz : “berarti kita keturunan surga”

diriku : deg, terdiam sungguh mulia manusia, kita adalah keturuna surga

“kita adalah turunan surga, mengalir darah dari nabi adam ke tubuh kita, walau kita entah keturunan ke sejuta sekian sekian, tapi awalnya ternyata nenek moyang kita pernah hidup di surga!!! kita harus tumbuhkan karakter surga dalam jiwa kita, di Alqur’an lebih banyak disebutkan hal yang halal dari pada yang haram, jadi sebenarnya tidak sulit seharusnya bagi kita untuk  menemukan hal halal, kita berawal bersih insyaAllah jika kita akan kembali bersih”

itu mungkin sebagian kecil yang aku kutib dari kajian ustadz malam itu. kita turunan surga!!! masih berdengung dalam otakku, malam itu kami dipersilahkan tidur lebih awal, kata panitia malamnya sebelum sholat lail kita akan dibangunkan karena ada kegiatan. sok, mangga atuh, yang penting sekarang tidur……

entah jam berapa terdengar suara berisik, sebelum dibangunkan aku terbangun sendiri, salah satu panitia mendatangiku langsung melepaskan slayerku, karena masih bingung aku minta diri untuk minum dulu, kulihat diluar gelam sekali tak ada nyala lampu, tanpa babibu mataku ditutup, apa ini? karena antara alpha dan beta masih belum stabil, aku nurut aja saat dituntun keluar, aku pikir “toh aku pernah menjadi panitia seperti ini, panitia pun tak ingin mengambil resiko tinggi, jadi pasti masih aman” waktu itu pikiranku langsung tertuju jangan-jangan ini jurit malam mau diajak kemakam, hi… biarin lah, aku yakin panitia pasti sudah memperhitungkan resikonya. tapi karena pengalaman dulu waktu kuliah, dan aku rasa ini masih di areal pesantren, aku hanya diajak muter-muter dengan mata tertutup, setelah sampai disuatu tempat aku disuruh duduk, dan ditinggali korek api ditangan! tapi entah kenapa aku yang sangat penakut malam itu tidak takut sama sekali, karena aku yakin masih mendengar suara langkah, suara orang bergumam dan suara – suara berisik lainnya yang ditimbulkan oleh manusia! beberapa saat berdiam diri terdengar suara ustadz mengalun bermuhasabah, kami diminta membuka penutup mata, didepan berjarak 30 cm terlihat papan nisan, kunyalakan korek api, deg!!! “ya Allah, nama :Martiana PL, Binti : M. Chamim, Lahir : 16-3-1984, Wafat :………” apa maksudnya??? papan nisanku, aku hanya terdiam sudah siapkah??? alunan  suara ustadz masih terdengar, kupandangi langit malam itu berwarna terang kelabu, mungkin pengaruh dari bulan, kuingat satu-satu wajah keluargaku, bapak yang selalu menggenggam tanganku, ibu yang selalu melihat senyumku, kakak-kakakku yang selalu melindungiku, adik yang menyediakan punggungnya untukku, ponakan-ponakanku yang selalu membuat aku tertawa, satu-satu wajah itu berlintasan di kepalaku, kubayangkan bagaimana aku melihat diriku dimandikan, disholatkan, diusung ke pemakaman, dimasukkan kedalam lubang di tanah, di tutup tanah, kulihat wajah bapakku, ibuku, mas-masku,mbak-mbakku, adikku, tak terasa badan ku bergetar tak kuasa menahan aliran hangat yang keluar dari mata dan hidungku, “ya Allah kami adalah turunan surga semoga saat Engkau memanggil kami, kami dalam keadaan khusnul khotimah, kembali bersih seperti saat Engkau melahirkan kami, amin….”

sementara ini dulu, aku masih harus mandi dan bersiap-siap ke kantor “i love monday”

Harga Diri?

Posted by: martiana on: August 13, 2010

Apa itu harga diri? apa berapa banyak kita dibayar? atau seberapa banyak orang berani membayar kita? apakah harga diri orang yang kaya lebih besar daripada yang miskin? atau apakah seberapa orang hormat kepada kita?

ingin dihargai? kalimat apa lagi itu,  mengapa kita ingin dihargai, karena apa kita ingin dihargai, lalu bagaimana kita menghagai diri kita? apa dengan memakai baju yang mahal, sepatu mahal, jam tangan mahal, naik mobil mewah, lalu kalau seperti itu caranya, bagaimana aku mampu menghargai diriku sendiri, aku sangat bersyukur dengan kehidupanku saat ini, Alhamdulillah berlipat-lipat ganda, tapi (kalau bersyukur seharusnya tidak ada kata tapi, menikmati apa yang ada,he2) jika dengan menghargai diri sendiri seperti yang diatas tentu aku tidak mampu melakukannya, gajiku Alhamdulillah masih cukup untuk makan dan bayar kredit motor, tapi tak mampu untuk membeli sepatu mewah, baju mahal, mobil super mewah, jadi apakah aku masih pantas dihargai? lalu apa makna sebenarnya harga diri dan dihargai?

aku pernah sakit hati karena merasa tidak dihargai, aku rasa semua manusia yang punya hati pernah merasakan ini. Tapi kenapa kita sakit hati? toh kita masih bisa makan, masih bisa minum, masih bisa hidup walaupun pernah sakit hati karena tidak dihargai, jadi apa urusannya kita dengan harga diri dan ingin dihargai, apakah kita cukup berharga untuk dihargai? wah kalau itu, jujur sebesarnya aku sendiri tidak ingin dihargai, nanti kalau ada orang yang nawar bisa repot,he2,…

bagaimana kalau kita merasa tidak berharga untuk dihargai, aku rasa itu cukup fleksibel, kita bisa santai menjalani hidup, kita hanya melakukan sebaik mungkin yang kita bisa, walau kita merasa orang lain tidak memandang pekerjaan kita, toh kenyataannya memang itu hasil kerja kita, kita tidak akan sakit hati karena tidak dihargai karena diri kita sendiri tidak berharga, jadi tidak pantas untuk tidak dihargai,

kita tidak perlu repot-repot sakit hati karena orang yang telah kita bantu tidak mengucapkan terima kasih, karena kita tidak merasa berharga untuk ucapan tersebut. hanya berpikir wajarlah tanpa uncapan terimakasih itu mungkin bantuan kita tidak seberapa atau mungkin kita juga pernah tidak mengucapkan terimakasih pada orang yang telah membantu kita, jadi “impas”. dan tak ada yang kebetulan didunia ini, ini semua pertolongan Allah,kita ada karena Allah dan orang lain tidak ada juga karena Allah. jadi bantuan kita pun bukan dari kita tapi dari Allah, bukankah begitu?

bagaimana apa kita siap untuk tidak dihargai?

pencerita

Posted by: martiana on: June 6, 2010

Hidup Seperti dua mata sisi pedang,

disatu sisi dia bisa melindungi,

disisi lain dia bisa melukai,

Apa yang kita pikirkan jika dalam suatu perjalanan,

saat duduk dalam bis, kita mendengar satu firman Allah dari mulut seorang peminta, saya sebut dia peminta karena kenyataannya dia tidak bernyanyi atau menenteng gitar seperti layaknya seorang pengamen,

ada beberapa hal yang mungkin kita pikirkan, seperti berani sekali seperti menjual firman Allah, atau ini  hanya taktiknya untuk mencari uang,

pertama kali mendengarnya, saya juga berpikiran seperti itu, tubuhnya kurus jangkung, dengan baju kemeja, dan tangan perpegangan pada besi, dia terlihat biasa saja,  dari mulutnya keluar ayat-ayat kitab suci lengkap dengan terjemahan dalam bahasa indonesia, saya berpikir apakah ini demi selembar uang dia mencobanya seperti dakwah pada penumpang yang notabene hidup di negara dengan penduduk muslim terbesar didunia, sehingga tidak menutup kemungkinan para penumpang bus pun 75% muslim. Banyak cara untuk mencari uang memang, tapi…

disisi lain saya suka mendengarnya, dan saya ingin dia terus melakukannya, secara sadar atau tidak setiap orang yang mendengarnya akan berpikir bahwa apa yang dia bicarakan benar, siapa tahu ada hati yang terketuk hatinya, aku rasa banyak jalan untuk membuat hati-hati ini terbuka, dan mungkin itu adalah salah satu cara tuhan untuk mengetuk hati kita, yang karena kesibukan ibukota, tidak punya waktu hanya sekedar membuka amanahnya.

he2 entah benar apa tidak, dikembalikan lagi pada kita

(perjalanan naik bus manyasari kampung rambutan-pasar senen, jam 21.00 setelah pulang kerja dari puncak)

Tags:

bumiMu

Posted by: martiana on: March 21, 2010

ada kupu-kupu dijendela kaca Masjid,  cerita dari para orang tua, jika ada kupu-kupu yang masuk dalam rumah, konon akan ada tamu yang datang. aku rasa akan selalu ada tamu yang datang ke rumahMu, datang silih berganti menunaikan kebutuhannya sebagai manusia, sebagai umat muslim, melaporkan segala sesuatu yang telah dialami, mengumandangkan namaMu selalu dan terus menerus. seperti sekarang ini, aku menjadi tamuMu.

Siang yang terik berjalan seperti orang bumi, merasakan panas seperti manusia bumi, hari ini aku merasa seperti manusia, diingatkan olehMu, bahwa aku juga manusia biasa, yang merasakan kepanasan, kehausan, berjalan dibumiMu yang luas, setiap inci bumi kulihat bertebaran karunia dan keberkahanMu. hingga kudengar kumandang namaMu, dan hanya satu tempat yang bisa kutuju, adalah rumahMu.

merasakan sejukMu, merasakan anginMu, merasakan kedamaianMu, aku tamuMu sekarang, yang sedang ingin duduk bersamaMu. ingin bercerita padaMu tentang manusia-manusia bumi, tentang pagi hariku, tentang perjalananku, tentang cerita-cerita orang tentangMu dan tentang kejadian-kejadian di bumi lainnya. walau aku tahu tanpa kuceritakan pun Kau sudah tahu, walau aku tahu Kau lebih mengerti dari apa yang kuceritakan padaMu, karena seluruh alam semesta ini tahu Engkaulah yang Maha Tahu, Maha Melihat, Maha bijaksana, Maha Mengerti, Maha dari segala Maha.

hari ini aku seperti orang kayangan yang turun kebumiMu, dan Engkau sadarkan, bahwa aku hanya manusia, salah satu dari umatMu, yang menjalani titahMu, yang berjalan diatas karunia dan anugrahMu, bumiMu……

(singgah dimasjid Pati, untuk sholat dhuhur, setelah perjalanan dari ngurus KTP dikecamatan dan ngurus SIM di kepolisian lalulintas, dengan naik motor, angkot dan becak) 15 maret 2010

All about the money

Posted by: martiana on: February 22, 2010

Uang, siapa manusia hidup yang tak menyukainya?
Kau menyukainya, Pedagang sayur, penjual jamu, pedagang gorengan, anak SMP, SMA, karyawan kantor, pengusaha, guru bahkan anak kecil umur tiga tahun sudah tahu apa fungsi uang,
Anak kecil merengek ke ibu bapaknya meminta uang untuk beli mainan, seorang penjaja koran harus berpanas-panas demi sejumlah uang untuk keluarganya, seorang pengusaha mati-matian mencari kontrak kerja untuk mendapatkan uang, bahkan seorang koruptor berusaha mengubah nilai kontrak juga karena uang,

Jadi apa nilai uang sebenarnya?
Aku pernah membaca satu pepatah bijak, bahwa nilai uang terletak karena kita hidup diantara orang yang terlalu tinggi menilainya,

Mungkin benar apa kata pepatah itu, jika kita hidup dihutan belantara tanpa manusia yang tau nilai rupiah atau dollar, mungkin kita tidak terlalu membutuhkan uang sehingga uang tidak ada nilainya, bahkan mungkin jika kedinginan kita rela membakarnya untuk menghanngatkan tubuh.

Aku berpikir seperti itu, bukannya aku meremehkan uang, atau aku tidak butuh uang,
Aku butuh uang, karena kenyataannya aku hidup diantara orang yang selalu membutuhkan uang, jadi aku harus punya uang untuk memenuhi kebutuhanku, dari beli makan, minum, sabun cuci, sampo, baju, sepatu, dan barang-barang lainnya, kita membelinya dengan uang, ya harus diakui uang memang penting, tapi sepenting itukah uang?

Aku lihat banyak orang kaya yang bunuh diri, bukankah harusnya dia bahagia dengan uangnya? Bukankah para orang kaya itu menimbun bertumpuk-tumpuk uang di bank? Jadi apa yang menyusahkannya?
Jadi aku berpikir, mungkin uang bukan yang terpenting, aku harus kembali berpikir bagaimana nilai uang yang sebenarnya?

Kemudian suatu saat, aku melihat seorang ibu yang melipat rapi uang ribuannya, hingga mulus, dan pada kesempatan lain aku melihat seorang kakek memasukkan uang ribuannya dengan hati-hati disaku bajunya, sambil tersenyum melihatku, uang ribuan!!! Seribu,, dua ribu, tiga ribu,…
Uang ribuan yang kadang hanya aku dan teman-teman ku geletakkan disudut kamar, menjadi begitu penting ditempat orang yang sangat membutuhkan,

Jadi aku berpikir aku harus menghargai uang, mereka yang sangat membutuhkannya, sangat tau bagaimana memperlakukannya, jadi mungkin nilai uang terletak pada siapa yang memegangnya, disaku siapa dia berada, uang seribu menjadi sangat berharga ditangan seorang ibu yang sangat butuh membeli susu untuk anaknya, tapi uang ratusan ribu takkan ada harganya ditangan seorang balita. Benarkah? Apakah itu nilai uang?

Kenapa orang berlomba-lomba mendapatkan uang yang banyak? Apakah biar bahagia? bukankah Tuhan menyuruh kita hidup sederhana? Bukankah dengan uang yang tidak terlalu banyak sudah bisa untuk hidup sederhana? Tidak berlebihan?

Apa menurutmu aku tidak suka uang? Kau salah, aku sangat suka uang, karena itulah aku disini, bekerja disini untuk mendapatkan gaji berupa uang, tapi bisakah kita menempatkan uang pada posisinya, bukan pada tujuan kita, tidak bolehkah aku berpikir begitu? Tidak bolehkan aku merasa tidak kekurangan apapun? Tidak bolehkan aku melakukannya? Tolong… jangan berpikir apa yang aku lakukan sia-sia, apa yang aku lakukan adalah hal yang konyol dan  tidak merubah keadaan apapun, apakah benar begitu? aku … hanya berusaha meletakkan nilai uang pada posisinya, tidak pada hatiku dan tidak pada pikiranku,

Suatu saat kita akan belajar bahwa memberi ternyata sangat menyenangkan, ternyata yang membuat hati dan pikiran kita tenang adalah ikhlas, yang cepat menyembuhkan hati yang terluka adalah juga ikhlas, jadi bisakah kita belajar ikhlas, kata yang mudah diucapkan tapi tidak mudah dilakukan. Kau taukawan?  aku sudah pernah merasakan nikmatnya ikhlas, karena itulah aku bercerita padamu, sehingga kita bisa belajar bersama tentang ikhlas, bukan tentang uang atau harta benda yang sering kau ceritakan itu,
Karena, kawan…..
aku tak melihatmu bahagia saat kau bercerita tentang kain-kain sutera, batu-batuan permata dan tentang semua apa yang kau miliki, kau hanya terlihat tidak bahagia…..

jadi semua ini tentang uang, karena uang, sebuah keluarga yang terpecah, seorang suami yang disia-siakan, seorang anak yang terpisah dari bapaknya, atau seorang bapak yang koruptor?

embun di siang hari

Posted by: martiana on: February 10, 2010

Siang yang panas menyengat aku berdiri dipersimpangan jalan yang berdebu dengan lalu lalang mobil bersliweran dari berbagai arah, tenggorakanku semakin kering dengan haus yang semakin menyiksaku, kalau tidak ingat bahwa aku masih memerlukan uang ini untuk ongkos naik bis nanti, aku pasti sudah beli air mineral pada seorang bocah pedagang asongan yang lewat didepanku. Tapi apa boleh buat, uangku hanya cukup untuk ongkos bus, dan hanya sisa beberapa ribu rupiah, jaga-jaga kalau ada apa-apa dijalan.

Sebenarnya aku ingin mengutuk matahari yang dengan sok kuasa menambah sinarnya, tapi siapa yang harus kusalahkan, dia juga hanya menjalankan titahNya, seperti aku, pepohonan dan rerumputan disini, jadi aku pasrah saja kepanasan dibawah terik panas yang semakin membara ini. Bus yang kutunggu juga tidak kunjung datang, sambil menenteng tas yang berisi ijazah dan sertifikat-sertifikat lainnya, aku masih bersabar menunggunya.

Aku baru saja lulus dari Universitas yang tidak bisa dibilang cemerlang tapi juga tidak bisa dibilang jelek, kalau bisa dibilang standar, IPK ku juga standar, diatas lebih sedikit dari rata-rata yang diperlukan perusahaan-perusahaan untuk syarat karyawannya. Dan seperti permasalahan lulusan-lulusan baru di Negeri Republik Indonesia ini, aku juga dihadapkan dengan Lapangan Kerja yang sulit, setiap Sabtu dan Minggu melihat Koran mencari lowongan perusahaan-perusahaan, mengirimkan surat lamaran ke berbagai perusahaan, dan kemudian menunggu undangan wawancara, dan ini adalah wawancara kesekian yang aku datangi, dan selalu berdoa bahwa ini adalah keberuntungan untukku. Aku tidak mau menyerah dan tak ingin menyerah, walau aku sekarang bisa disebut pengangguran tapi setidaknya aku pernah mengenyam pendidikan di sekolah tinggi, dan lebih beruntung dari adek-adek yang kepanasan sambil menawarkan air mineral dan permen. itu “maafkan aku dek, sebenarnya aku ingin beli aquamu, tapi apa boleh buat aku harus berhemat untuk pulang” aku hanya bisa bersuara lirih dalam hati memandang bosah kecil dibawah lampu merah.

Setelah tiga puluh menit berdiri kepanasan, bus warna hijau jurusan lebak bulus akhirnya datang juga. Tidak seperti di film-film korea dengan bus yang bersih dan tidak penuh sesak, bus di sini selain tidak terjaga kebersihannya, juga berapapun jumlah penumpang pasti diangkut, yang penting mampu bayar. Aku termasuk penumpang yang malang itu, berusaha bisa masuk walaupun udara pengap dan pegangan tangan hampir tidak ada, karena penuh dari belakang sampai depan, yang paling mengherankan sang keneknya masih saja bilang “maju mbak, maju mbak, mepet lagi, belakang kosong”, “kupret, kosong pale lo” dalam hati hanya bisa merutuk, walau aku maklum semaklum-maklumnya dia juga punya anak istri untuk dinafkahi dirumah.

Bus berjalan dengan kecepatan seadanya, karena daerah kuningan yang macet tiap pagi dan sore jam berangkat dan pulang kerja. di depan pasar festival dua orang gadis kecil naik ke bus, yang satu membawa kantong plastik permen yang seorang lagi membawa gitar kecil, mereka berdua adalah pengamen. dengan lantang suara mereka memecah kepengapan udara bus, membawakan sebuah lagu ungu bertemakan religi, karena aku bukan penggemar ungu fanatik aku tidak tahu judul lagunya, tapi aku kagum pada mereka berdua sekaligus miris melihat nasib anak-anak itu. Aku juga tahu maksud mereka menyanyikan lagu itu adalah untuk meraih simpati, penumpang yang notabene pasti sebagian besar muslim, karena kita tinggal di Negara dengan penduduk muslim terbesar didunia, tapi tak punya kekuatan Islam sama sekali, tapi aku maklum juga karena mereka juga hanya sekedar mempertahankan hidup di bumi Jakarta ini. Jika melihat hal seperti itu aku kadang mempertanyakan kekuatan Undang-Undang 1945 kita, yang berbunyi, anak terlantar dipelihara oleh Negara. dipelihara dimananya ya mereka? ah sudahlah, nasibku mau bagaimana saja aku tidak tahu, masih memikirkan nasib orang lain. Tapi bagaimana jika pikiran para pejabat kita seperti aku, lalu siapa yang akan memikirkan mereka?? salah seorang gadis kecil tadi menyodorkan bekas bungkus permen didepanku, akupun segera tersadar bahwa lagunya sudah selesai, dan inilah waktunya mengambilkan hak mereka, aku tersenyum dan merogoh recehan di saku untuk kumasukkan ke bekas kantong permen itu.

Sampai di pertigaan mangga besar aku turun, kemudian nyambung lagi naik angkot arah Pasar Minggu turun depan gang perumahan, kemudian jalan kaki dua ratus meter kedalam.  Sampai rumah lelah sekali, perjalanan kali ini mungkin tidak membawaku ke pekerjaan yang kuharapkan, tapi setidaknya aku masih beruntung dibandingkan anak-anak yang kutemui dijalanan tadi, mereka masih harus berpikir makan apa nanti malam, tidur dimana kita nanti malam? atau berdoa semoga besok tidak tertangkap satpol PP saat ngamen. Aku berpikir terus tentang mereka, bagaimana kalau hujan, mereka tidur dimana? tapi mereka bagai embun di siang hari bagiku, membuatku untuk harus tetap berjalan,  untuk kemudian mencoba mempertahankan hak-hak mereka yang belum pernah mereka rasakan, semoga…

suara ibu memecahkan lamunanku, saat memanggil untuk makan bersama dengan hidangan yang cukup membuat tubuhku bergizi, aku pun berdoa “ ya Allah segala puji hanya padaMu, rahmatilah kami dan berkahilah kami dijalan yang lurus, terimakasih atas rejeki dalam hidangan ini, amin”.

Mandalawangi-Pangrango by : Soe Hok Gie

Posted by: martiana on: January 26, 2010

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu

aku datang kembali kedalam ribaanmu,

dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna

aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

dan aku terima kau dalam keberadaanmu

seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi

sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada

hutanmu adalah misteri segala

cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “

tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar ‘

terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara

aku terima ini semua

melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

waktu

Posted by: martiana on: January 15, 2010

Semua Takkan sama seperti dulu, Seiring dunia yang berubah,

Kau  akan berubah, aku berubah dan  kita semua akan berubah,

Kita memang orang sama seperti dulu, tapi takkan serupa lagi,

Lingkungan yang ada disekitar kita berbeda sekarang,

Kau dengan duniamu, dan aku dengan kehidupanku,

Mungkin kita masih sama-sama menyimpan kotak sejuta mimpi masa lalu,

Tapi sekarang itu hanya untuk bahan pembicaraan jika kita semua bertemu,

bercanda, dan saling melemparkan cemoohan yang sama sekali tidak menyakitkan,

tapi tenanglah kawan…

ini adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan,

tak ada yang luar biasa, karena yang tidak berubah didunia ini hanya perubahan itu sendiri,

Aku berubah, kau berubah, kebiasaan kita berubah, pandangan kita berubah, dan tanggung jawab kita juga berubah,

sehingga kita mempunyai sedikit waktu dan kesempatan untuk saling berbagi informasi,

tapi sekali lagi itu adalah hal yang biasa dalam kehidupan,

perubahan yang kadang kita tanyakan,…

tidak perlu menyalahkan siapa-siapa,

tidak perlu ada yang merasa bertanggung jawab,

dan tak perlu bertanya apa yang tengah terjadi,

karena ini adalah hal  yang biasa….

Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.