Martiana's Weblog

laki-laki itu…

Posted by: martiana on: December 30, 2009

tangannya tampak berkerut menghitam, laki-laki yang sudah menawan hatiku,
dia berbicara tentang kehidupan, tentang jalan yang berliku, tentang tanjakan didepan, dan tentang turunan dipersimpangan, dia bilang bila hidup tanpa ada riak maka tidak hidup namanya, aku terdiam mendengarnya……

angin masih berhembus, gesekan daun pohon mangga sayup terdengar, kerutan diwajahnya tampak jelas, laki-laki yang dulu selalu memegang erat tanganku kini sudah mulai melonggarkan pelukannya, bia berbicara tentang hari esok, tentang rumah, tentang anak-anak, dan menanyakan bagaimana pendapatku tentang itu, aku tersenyum, memandangnya, tanpa sanggup membayangkan bagaimana hari esok tanpanya…..

debu perkotaan masih mengepul, menyisakan jejak – jejak peradaban manusia modern. aku membaca surat darinya, walau isinya tidak penting bagiku, walau setiap malam aku bisa mendengar suaranya dan membuktikan kecanggihan teknologi masa kini, tapi ini adalah surat pertamaku darinya, surat yang membuatku mataku tampak buram, tulisan tangan tegas dan dalam, yang selalu mampu membuatku rindu padanya dan aku hanya mampu diam membacanya…..

angin kering masih saja berhembus, aku melihat punggung laki-laki itu, mencium tangannya, tangan yang pernah menamparku dulu, yang sekarang aku sudah lupa kesalahan apa yang kuperbuat dan sejak itu aku tak pernah lagi melihatnya marah padaku, bahkan saat nilai raporku berwarna merah, dia hanya diam serta memberi nasehat atau saat aku mengendap-endap pulang terlalu malam, dia hanya duduk ditengah ruangan menungguku pulang. dan saat ini baru kusadari, bahwa saat dia menamparku dulu pasti hatinya lebih sakit daripada pipiku yang panas….

laki-laki yang selalu menuntun langkahku, yang selalu menungguku pulang diujung jalan, kini terlihat merapuh, walau dia berusaha sekuat tenaga melawan perubahan zaman, mencoba berperang dengan pendar-pendar waktu, dia selalu tampak gigih dan bekerja terlalu keras, dia adalah Bapak nomor satu di dunia,

Walaupun dia tidak ada saat aku mengerjakan PR, walau dia tidak ada saat aku menonton film kesukaanku, walau dia tidak tahu hari ini aku bermain apa dengan siapa, tapi dia tahu apa yang harus diperbuatnya untukku, dia tahu saat aku menangis karena tidak bisa mengerjakan soal fisika, kutemukan paginya buku PR-ku terisi jawaban soal-soal yang rumit, dia tahu saat aku bermain ke rumah tetangga untuk nonton ksatria baja hitam, beberapa bulan kemudian saat pulang sekolah kulihat antena UHF berdiri di depan jendela kamarku, dia tahu saat aku jatuh sakit karena ulah virus titanus kemudian kudapati seboah boneka bayi berbaring disampingku menemani hari-hariku ditempat tidur.
Dialah Bapak Nomor Satu di Dunia, walau dia dia tak pernah bilang sayang padaku, tapi apa yang dia lakukan untukku, lebih dari yang sanggup aku gambarkan bagaimana perasaannya, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk laki-laki yang sudah membuatku aku berdiri tegar sekarang, yang sudah membuat aku mulai belajar menjalani hidup yang katanya beriak….

Angin masih saja berhembus, awan – awan merah mulai berarak menuju mentari senja, dan burung – burung terbang pulang kesarangnya, sang waktu masih melenggang dengan jubah kebesarannya bernama perubahan, dan singgasana ketidakabadiannya masih megah berdiri, diantara kehidupan manusia yang semakin terlupa bahwa waktu masih berkuasa atas dirinya….

jakarta, 30 Desember 2009

semut dan botol teh kosong

Posted by: martiana on: December 14, 2009

aku ada kisah pendek, yang tiba-tiba terlintas saat menunggu giliran dilayani sarapan oleh ibu penjual sayur lodeh,
aku duduk di bangku kayu panjang, melihat keluar dibalik jendela berjeruji kawat, didepanku berjajar botol-botol teh siap minum, ada yang masih terisi penuh, belum dibuka penutupnya, tapi beberapa botol sudah kosong, tiba-tiba mataku terpaku pada beberapa ekos semut yang ada didasar botol teh yang kosong, sepertinya berusaha untuk keluar botol, tapi kulihat perutnya sudah membuncit oleh teh, tentu dia sangat kekenyangan, beberapa masih berudaha keras untuk keluar botol, tapi beberapa juga ada yang merasa kelehan, dan hanya menatap lubang atas pohon,
aku jadi teringat sesuatu, apakah sifat dasar manusia juga seperti binatang, yang sama-sama makhluk hidup, aku berpikir coba jika semut itu minum tehnya tidak terlalu kenyang, tentu dia bisa keluar dari botol itu, coba jika semut itu berhenti setelah merasa cukup. tentu dia tidak akan kesulitan merangkak ke atas botol, bukankah semut seperti sudah menaklukkan gaya gravitasi bumi, apa yang sulit untuk berjalan keatas. sekarang sekeras apapun dia berusaha merangkak keluar mungkin tidak bisa, bahkan sampai matipun dia mungkin masih didalam botol, seperti sifat dasar manusia yang menjadi tamak,
berhentilah setelah merasa cukup, walau bagaimanapun kita hanya manusia, pada akhirnya tanah yang kita perlukan hanya ukuran 2 x 1 meter, jangan terlalu tamak pada dunia, karena mungkin kita akan terus merasa kurang dan kurang, dan setelah kita terperangkap pada situasi yang tak pernah kita bayangkan, kita akan sulit keluar, kita sulit untuk membersihkan diri, bahkan sampai mati sekalipun.
aku takut jika suatu saat seperti itu, karena pada dasarnya sifat manusia adalah tamak, ingatkah kisah hanya manusia yang mau menjadi khalifah di bumi ini setelah gunung-gunung dan lautan menolak menjadi khlaifah, ya seperti itulah sifat manusia.
berhentilah setelah merasa cukup, dan rasa cukup itu hanya kita sendiri yang tahu, jangan berlebihan, jika memandang keatas terus kita takkan pernah ada habisnya, pandanglah kebawah, tundukkan pandangan pada orang yang berpanas-panas hanya untuk sekedar makan sesuap nasi.
kita hanya manusia, dan dunia bukan diciptakan untuk kita, letakkan dunia ditangan dan kakimu, jangan dihati,

Tags:

sahabat sederhana

Posted by: martiana on: November 2, 2009

kesederhanaan masih membalutnya, senyumannya masih semanis dahulu, dan tatapannya masih sesejuk ingatanku,
mereka menungguku didepan gerbang stasiun solo balapan,
tersenyum melihat kedatanganku, aku berjalan dengan langkah lebar-lebar, Assalamu’alaikum kami segera bersalaman dan berpelukan,
sahabat-sahabat sederhanaku, aku kangen pada kalian,,,

lama sekali kami tak berjumpa, setelah tahun kelulusan tiga tahun berselang kami baru bisa berjumpa, dan masih seperti dulu, hanya aku yang bercelana dan berjilbab sederhana, tapi mereka tidak pernah mempersalahkannya, hanya kadang sesekali menasehati dengan “yang lembut sedikit dong ukhti, biar tambah manis”
ha-ha aku hanya bisa tersenyum dan minta didoakan semoga pintu hatiku segera dibukakan, aminnn,

sahabat-sahabat sedehana ku, masih seperti dulu
sabar, tenang, dan selalu tersenyum,
kadang aku merasa, jika difoto,mungkin aku lah perusak pemandangan itu,
ha2 aku merasa kecil dihadapan mereka,
mereka tetap istiqomah, berjalan di jalan yang lurus,
walau terjun dimasyarakat yang sangat rentan dengan isyu-isyu tidak jelas, mereka tetap maju, dan selalu menundukkan kepala,

tak ada kata-kata duniawi dan kemewahan harta yang mereka ucapkan,
hanya kesederhanaan yang sempat membuatku iri,
tapi ya Allah, Engkau menciptakan segala sesuatu tentu sudah pada tempatnya, dan pasti sudah Engkau persiapkan diposisinya masing-masing, tidak lebih dan tidak kurang,
terima kasih telah memberi sahabat-sahabat sederhana yang selalu mengingatkanku,
pertemuanku dengan mereka telah menyadarkan satu hal yang sangat penting, yang disini bahkan kadang dianggap sampah,

terimakasih ya Allah,
sebenarnya kederhanaan mereka adalah kemewahan bagiku,
yang telah kau ingatkan bahwa banyak hal yang telah mereka lakukan untuk agamaMu,
dan semoga hamba bisa, walau dengan jalan yang berbeda, walau dengan cara yang berbeda, semoga Engkau tak pernah membiarkan hamba melupakanMu,
amin…

sahabat-sahabat sederhanaku
semoga kalian tetap istiqomah dan selalu diberkahi,
amin

Tags:

kenangan Kecilku

Posted by: martiana on: October 7, 2009

Stasiun kereta selalu membuatku sedih ,
melihat kereta api dengan gerbong yang panjang perasaanku disergapi rasa takut,
stasiun mengingatkanku pada seseorang yang hangat,
seorang perempuan selain ibuku yang bisa aku peluk dan menangis dipangkuannya,

dulu saat distasiun bersamanya aku mengira akan diajak bepergian naik kereta,
berkunjung ke tempat dia tinggal,
dia mengajakku naik kereta,
menunjukkan tempat duduknya,
dan melihat ayah ibu yang mengantar dari balik jendela kereta,
aku begitu bersemangat saat itu,
berlarian sepanjang gerbong,
aku tahu aku aman, karena dia berjalan dibelakangku,

tapi, saat suara seorang wanita terdengar keras diseantero stasiun,
dia mengajakku turun, dan menyerahkanku dipelukan bapakku,
dan dia melangkah naik kegerbong kereta, sendirian….
aku terkesiap melihatnya,
aku langsung tahu, ternyata dia meninggalkan kami semua lagi, lagi dan lagi
dia tidak mengajakku naik kereta,
dia duduk dibalik jendela kereta malam,
tersenyum dan melambaikan tangan kearahku,
aku hanya bisa melihatnya, aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku,
hanya saja aku tidak bisa tersenyum sepertinya,
yang kuperlukan saat itu hanyalah pelukan bapakku, aku tak ingin melihatnya,
aku sedih…

Dari saudara bapakku hanya dia yang selalu membuatku bisa bicara ditelepon,
dia selalu menanyakan kabarku, apa yang kulakukan, sudah makan apa belum,
tadi makan pake apa,
dan entah kenapa jawabanku selalu membuat dia tertawa,
waktu dia tanya makan pake apa? aku jawab pake sendok,
bukankah benar aku makan pake sendok, tapi tawanya terdengar terpingkal-pingkal,
aku tak tahu bagaimana pola pikiran orang dewasa,
aku rasa jawabanku sudah benar,

dulu waktu kami masih belum pindah rumah,
dan aku belum bisa berjalan dengan benar,
tiap kali dia datang kerumah, dia selalu mengajakku keliling kampung naik sepeda,
melewati rumah-rumah tradisional, jalan-jalan kampung,
melihat angsa dipinggir jalan, dan orang – orang yang ramai lomba tujuh belasan,
dia meletakkan tempat duduk kecil di stang sepeda,
dan mendudukkan aku disana,
kami keliling berpetualang bersama,
kemanapun aku pergi, jika bersamanya aku tidak takut,
karena aku tahu aku aman,
padahal aku sangat tahu dia tidak pernah pandai menghafal jalan,
pernah beberapa kali kita tersesat tidak tahu arah pulang,
tapi dia selalu bisa meredakan keresahanku, mengajakku bernyanyi,
berbincang tentang apa saja yang kita temui dijalan,
menawariku makanan, dan aku tahu, dia pasti menemukan jalan pulang,
makanya aku tak pernah takut bersamanya,

Sekarang aku sudah pandai berkata-kata,
jika dia datang kerumah, aku selalu ingin membuntutinya,
waktu dia sholat, aku akan menyibak tirai kamar mushola, memastikan dia ada,
saat dia mandi, aku akan berulang-ulang mengetuk pintu kamar mandi,
dan memanggil-manggil namanya, sampai dia menjawab dari dalam kamar mandi,
aku senang melakukannya,

dia adalah orang yang bisa memelukku dan memberi hukuman dengan keras kepadaku,
kalau menghukumku, dia akan menggelitik perutku, hingga aku geli dan mengakui kesalahanku,
atau waktu dirumah embah, saat aku nakal dia dan omku bilang mau memasukkan aku ke kamar yang ada peti matinya,
entah apa itu, tapi dia berkata seperti itu, karena dia tahu pasti aku sangat takut dengan setan, pocong dan teman-temannya
yang aku tahu dia menghukumku saat aku berbuat salah, berbuat keterlaluan dan berbuat seenakku, tapi aku tak bermaksud berbuat jahat,
dan dia tahu itu,
dan aku juga tahu saat dia memberi hukuman dia juga tak bermaksud berbuat jahat kepadaku,

sekarang apa dia merindukan aku,
aku rasa dia pasti rindu dengan celoteh kecilku…

Tags: ,

Sajadah Panjang

Posted by: martiana on: September 30, 2009

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Di selingi sekedar interupsi

Reff:
Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya
Mengingat Dikau sepenuhnya

Tags:

negeri Angin

Posted by: martiana on: September 28, 2009

kemarin aku pulang ke negeri angin,
negeri dimana pertama kali aku berjumpa dan berkenalan dengan angin,
pertama kali aku menyadari kehadirannya, selalu disampingku,
selalu ada, tanpa terlihat, tapi bisa kurasakan,

dia masih seperti dulu,
masih sama seperti aku mengingatnya pertama kali,
menggesek dedaunan pohon mangga didepan teras,
dan menimbulkan bunyi yang khas,
yang hanya bisa terdengar di negeri angin,

di negeri angin, suara sangat dihargai,
suara kendaraan yang bersliweran sangat terdengar jelas, dan jernih,
suara ibu memanggilku, suara orang bercakap-cakap,
dan suara jejak kaki,

aku masih memandang rimbunan dedaunan pohon mangga,
dan angin masih setia mempermainkan rambutku,
menari diujung sudut mataku,

negeri angin akan selalu ada,
dimana sinar mentari berusaha masuk diantara dedaunan pohon mangga,
dan aku bisa menikmati alunan musik alam yang dimainkan angin,
sambil duduk menulis atau membaca buku,
dan rambutku masih bergoyang dimainkannya….

Tags:

menjelang kepulanganku

Posted by: martiana on: September 17, 2009

Setiap orang diciptakan dengan takdirnya sendiri-sendiri
ada yang menjadi penjual koran, penjaja makanan dikereta dan ada pula yang menjadi penumpang dikereta,
kadang aku berpikir apa yang orang-orang pikirkan,
menjajakan makanan sampai semalam suntuk,
dari pagi hingga pagi lagi, tanpa lelah menunggu kereta malam yang lewat distasiun,
bahkan aku pernah melihat seorang nenek tua yang masih menjajakan dagangannya,
dan tidak bisa turun karena kereta sudah terlanjur jalan, kalau seperti itu dia mesti ikut kereta sampai turun distasiun berikutnya,
sebenarnya tidak ada yang salah dengan kehidupan ini,
hanya saja, seorang nenek tua tengah malam masih sibuk menjajakan dagangannya, dimanakah keluarganya? dimanakah anaknya? kenapa sampai seperti itu dia membanting tulang,
sebenarnya apa yang diperlukan manusia untuk bertahan hidup?
hanya sesuap nasi dan seteguk air minum?
apakah begitu beratnya mendapatkan hal itu?

tak ada yang salah dengan kehidupan ini,
setiap orang diciptakan dengan takdir masing-masing
dengan jalan cerita dan kisah masing-masing
ada yang menjadi penumpang kereta, penjaja makanan di kereta malam,
dari penumpang kereta itupun masih dibagi-bagi sesuai dengan garis-garis kemampuan penumpang,
ada penumpang kereta ekonomi, bisnis dan eksekutif,
liburan lebaran membuat orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman masing-masing,
saat-saat seperti ini terlihat jelas kesenjangan antar manusia,
sang kaya dan si miskin,
dan satu tradisi yang menurutku tidak terlalu benar tapi sudah menjadi pembenaran sendiri di masyarakat,
bahwa jika lebaran tiba kita harus punya banyak uang,
dan itulah yang mengakibatkan banyak kejahatan meningkat menjelang lebaran,
sebenarnya tidak ada yang salah dengan lebaran itu sendiri,
tapi bukankah sebaiknya lebih khusyuk menyambut bulan Rhomadan daripada bulan Syawal
tapi kenapa orang lebih membesar-besarkan lebaran daripada Rhomadhon,

tidak ada yang salah dengan lebaran,
dikampungku sendiri orang-orang menyambut lebaran dengan meriah,
malam 1 syawal disambut dengan takbiran keliling,
anak-anak sampai dewasa keliling desa dengan kostum yang aneh,
patung-patung dari kertas diarak, dengan penampilan yang terbaik,

tidak ada yang salah dengan bulan syawal,
hanya kita manusilah yang mungkin tidak bisa mengambil makna tiap waktu yang diberikan,

aku mungkin tidak terlalu peka seperti orang kebanyakan,
sering melupakan nama teman, sering tidak mengenal wajah teman,
bahkan kadang melupakan kejadian yang penting,
aku hanya berusaha memandang hidup sesederhana mungkin,
sebenarnya apa yang kita cari di dunia ini???

maaf kawan,
semoga kita bisa menjalani hidup ini dengan sederhana,
melangkah dengan sederhana,
dan selalu tersenyum akan perjalanan yang kita lakukan,
semoga selamat sampai tujuan,

amin…

Lain Ladang Lain Belalang Lain Lubuk Lain Ikannya

Posted by: martiana on: September 7, 2009

Setelah hidup seperempat abad mungkin aku baru menyadari pepatah itu memang ada benarnya, itupun secara tak sengaja pertama ketika teman mengucapkannya ditengah-tengah sholat tarawih dia mengomentari jamaah yang membalas puji-pujian kepada Rasullullah beda dengan tempatnya berasal,
yang kedua ketika aku nginap di tempat temanku dan sholat tarawih di masjid dekat kosnya, sholat tarawih dilakukan 20 rekaat dan 3 rekaat witir sama dengan masjid di kampung halamanku, sama cepatnya juga, tapi bedanya disini tiap 4 rekaat ada doa bersama oleh imam yang diamini jamaahnya, karena tidak tahu jadi aku kira sholat tarawih sudah selesai, dan niat sholat witir, tak tahunya ternyata sholat tarawihnya masih lama…. he2

Akhirnya aku setuju dengan pepatah di atas, lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya, lain masjid dan lain imamnya lain pula urutan tarawihnya, ada yang ceramah dulu baru sholat tarawih, ada yang sholat tarawih dulu baru ceramah, tapi yang pasti kalau sholat isya itu tepat waktu, begitu muadzin selesai adzan, imam diseluruh masjid di muka bumi ini insyaAllah langsung mendirikan sholat. dan itulah Islam, selama masih tidak melanggar aturan Islam yang mendasar Allah itu Ahad, Muhammad utusan Allah, bagaimanapun urutan sholat tarawih itu banyak pendapat ulama, aku sebagai makmum insyaAllah bisa ikut, asal jangan yang aneh-aneh aja, seperti ada nabi setelah Muhammad, sepertinya kita harus bisa berfikir mana yang masalah mendasar dan mana yang tidak,

yah pepatah kuno yang ternyata manjur juga adalah malu bertanya sesat dijalan, coba aku mau nanya sebelahku setelah ini sholat tarawih atau witir, pasti gak akan salah niat sholatnya, tapi Allahualam, Dia lah yang tahu aku tidak sengaja salah baca niat, dan semoga sholat sunahku diterima, Amin

Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Posted by: martiana on: September 3, 2009

Apakah kita semua
Benar-benar tulus
Menyembah pada-Nya
Atau mungkin kita hanya
Takut pada neraka
Dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkan kau bersujud kepada-Nya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya

Bisakah kita semua
Benar-benar sujud sepenuh hati
Kar`na sungguh memang Dia
Memang pantas disembah
Memang pantas dipuja

kisah pagi

Posted by: martiana on: September 2, 2009

pagi yang menyegarkan,
Terimakasih ya Allah kau kirimkan hujanMu semalam,
membuat hamba tidur terlelap dengan irama dentingan air Mu,
walapun ocehan nyamuk tak kalah nyaring disekitar telinga,
tak menyurutkan mata hamba untuk tetap tertutup, he2

Terimakasih ya Allah, mungkin inilah yang terbaik untuk hamba,
dan Engkau pasti mempunyai rencana terbaik untuk hamba,
mohon ikhlaskan hati hamba ya Allah,
engkaulah yang paling tahu, apa yang hamba butuhkan, dan sebenarnya apa yang tidak perlu untuk hamba,
dan mungkin sebenarnya inilah rencanaMu,

Engkau perencana semua perjalanan makhlukMu,
tak ada yang lebih berat dan tak ada yang lebih ringan,
semua pas menurut ukuranMu, dan kemampuan MakhlukMu,
jadi mungkin ini juga tidak lebih berat seperti apa yang kuduga,
dan terimakasih padaMu,
mohon ampun atas segala dosa yang aku perbuat tanpa sepengetahuanku,
Engkaulah yang Maha Tahu…

jangan biarkan hati hamba jauh dariMu ya Allah,
terimakasih kau kirimkan hujanMu semalam,
irama dentingan alam yang menenangkan pikiranku,
hembusan dingin yang mendamaikan jiwa dan hatiku,

Terimakasih atas segala kisah yang kau anugrahkan kepadaku,
semua ada dalam rencana dan kepastianMu,
mohon jangan biarkan hamba terlupa padaMu,
dan jangan pernah kau tinggalkan hamba,
hanya Engkaulah cayaha dalam perjalanan ini,
dan Engkau lah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hamba,
berikanlah yang terbaik itu ditempat dan waktu yang tepat,

Amin… ya Rabbal ‘alamin

pagi yang menyenangkan dengan pikiran yang menenangkan,
Ghu Mao…..