jika waktuku tinggal sebentar, apa yang akan aku lakukan, menangiskah?
aku bahkan tidak tahu apa yang aku lakukan,
mungkin aku akan bersujud kepadaMu,
hanya bersujud kepadaMu, bertermakasih atas semua kesempatan yang telah Engkau berikan kepada hamba, sebuah kehidupan yang sangat layak untuk disyukuri, kemudian mungkin aku memohon ampun atas semua dosa-dosa yang telah aku perbuat, yang kebanyakan dari dosaku itu aku sengaja, dan memohon apunan dosa untuk kedua orang tuaku, kakak-kakakku, adikku, seluruh keluargaku memohon semoga mereka rukun dan Engkau beri petunjuk selalu dalam jalanMu, dan mohon kepadaMu agar kedua orang tuaku, Keluargaku dan sahabat-sahabatku selalu dalam lindunganMu,
hal kedua yang aku lakukan adalah mengambil cuti dikantor, pulang kerumah dan menghabiskan waktu yang tersisa untuk mengabdi kepada kedua orang tuaku, dan aku mohon kepadaMu, jangan perlihatkan kelemahanku dihadapan Ibu, Bapak dan saudara-saudaraku, biarkan mereka mengenal dan mengenangku seperti sekarang ini, sehat wal’afiat, keras kepala, suka marah-marah dan selalu tertawa.
ya Allah hanya padaMulah hamba menyembah dan meminta pertolongan,
Hamba makhlukMu yang Engkau ciptakan dengan sempurna, lengkap dengan hati nurani dan akal pikiran yang membuat manusia berbeda dengan binatang,
jika waktu tinggal sebentar, mohon izinkan hamba membahagiakan orang-orang disekitar hamba,
mohon berikan kesabaran dan kelapangan hati kepada hamba dan orang-orang disekitar hamba,
mohon jangan biarkan hamba selalu berbuat dosa,
dan terimakasih atas seluruh karunia dan anugrah yang telah Engkau berikan,

terimakasih untukMu ya Allah,
the Best and only

hujanku sudah datang lagi,

membuat pipiku terasa dingin, aku suka hujan, suka sekali,

kurasakan rintikannya di telapak tanganku, dingin…

kudengarkan dendangan lagunya tentang kisah kehidupan dibelahan bumi yang lain, riuh rendah saling bersahutan,

hujan,  selalu membuat hatiku damai, mendinginkan kepalaku yang panas, oleh hal-hal yang selalu membuatku pusing, tak pernah bosan aku menghirup bau tanah yang diakibatkan oleh curahannya, bau ampo…

seandainya kita mempunyai sedikit saja sifat hujan, dia selalu tabah dimanapun dia dititahkan untuk turun,

dipadang pasir tanpa penghuni, dia turun menyejukkan binatang dan tumbuhan yang mengharapkan kedatangannya sepanjang tahun, dirimba raya dia turun dengan anggun menyejukkan setiap helai daun yang berjatuhan ditanah dan menghijaukan pepohonan yang mulai kering, bahkan dia tetap tunduk saat semua orang mencaci makinya ketika dia dititahkan untuk turun dipusat keramaian,

hujan….

sudah lama rasanya aku tidak berkisah padamu,

aku ingat, bagaimana aku berlarian dibawah tarian curah hujanmu saat aku kecil,

aku ingat bagaimana aku menggigil kedinginan malamnya,

dan aku masih ingat dengan jelas bagaimana aku selalu menikmati dinginmu saat semua orang menghangatkan diri didalam rumah,

hujan, semoga aku bisa sepertimu, tunduk menjalani segala yang dititahkan olehNya,

sore itu aku sedang menikmati senja di parkiran monas, mencari sinyal hot spot untuk cari gratisan, sinyal timbul tenggelam, mengajak bercanda denganku yang sedang tengelam dalam rasa  ingin tahu, tiba-tiba “pet” baterai habis, lap-top sudah tidak mau melayani tuannya yang masih asyik dalam rasa penasaran, tapi ya sudah lah, aku tetap menikmati sore itu diplataran Irti Monas,

sambil bercanda dengan temanku, aku mengamati sepasang anak kecil yang bermain, lari kesana, kemari dan tertawa tanpa ada hal yang lucu menurutku,

bocah laki-laki itu kira-kira berumur lima tahunan, lincah dan tak pernah bisa diam, kaos putih tapi sudah tampak kecokelatan, rambutnya kemerahan karena sinar mentari ibukota, celananya pendek dan tak kalah lusuhnya dengan kaos yang dia pakai, tapi tak kulihat guritan kesedihan diwajahnya yang masih bocah, bahkan dia menikmati berlari-larian di lapangan yang beralaskan beton itu, dan tentu saja dengan kaki telanjang.

anak perempuan itu sedikit bungkuk dibagian punggungnya, karena itu kurasa menggangu pertumbuhan tinggi badannya dan membuatnya agak pincang sehingga susah berjalan, rambutnya lurus sepundak, dia mengenakan baju yang kurasa berwarna pink , jalannya agak  lambat, tapi dia berusaha mengimbangi temannya saat berlarian walau dengan susah payah, dia tetap berjalan, tiduran diatas gulungan terpal yang belum dipasang petugas. dan dia tampak sangat menikmatinya, yang bahkan kurang bisa disebut arena untuk bermain.

sore itu sangat rame, maklum malam minggu, banyak anak muda yang keluar dan keluarga yang sedikit ingin melepas rutinitas seharian, walau sangat rame dua anak kecil itu asyik bermain tanpa menghiraukan kami disekitar tempat itu, hatiku jadi miris, tempat ini kurang cocok untuk anak sekecil mereka, sangat bising dan begitu hiruk pikuk banyak orang. tapi mereka mencoba menikmati segala keterbatasan yang mereka miliki, tanpa mengeluh dan tanpa rasa bosan mereka selalu tersenyum, tertawa dan bercanda, saling berkejaran kesana kemari, membuat mataku tak bisa melepaskan pandangan dari mereka berdua.

saat mereka sedang bercanda, datang dua orang kakak beradik laki-laki yang umur dan tinggi badannya sedikit lebih tinggi dari mereka berdua. sang kakak tiba-tiba menghardik dan mengejar bocah laki-laki itu, anak perempuan itu dengan susah payah mengejar mereka berdua dan berusaha menghadang kakak laki-laki tersebut sambil berteriak “jangan-jangan”, saking takutnya bocah laki-laki itu terduduk dan menangis sebagai permohonan ampun, anak perempuan tadi berhasil menghadang kakak laki-laki tersebut dan bilang “jangan, ntar gue bilangin ayahnya lho” sambil  memandang tajam pada kakak laki-laki yang tinggi badan dan berat tubuhnya bahkan lebih besar dari dia, kakak laki-laki yang kuperkiran baru berumur tujuh tahunan itu terdiam dan memandang gadis kecil itu, semenit kemudian dia mengajak adiknya pergi menjauh dari dua teman kecil itu. gadis kecil itu mendekati temannya yang masih menangis dan membujuknya untuk diam, seakan berkata ” tenang teman, semua sudah aman, tak perlu lagi kau merisaukannya, bahaya sudah pergi, jangan menangis lagi”

aku terdiam memandang semua kejadian itu, hanya dalam waktu beberapa menit aku dibuat tak bisa berfikir, bahkan anak sekecil itu pun berani membela seorang kawannya saat dalam bahaya, jika dibandingkan dengan tubuh bungkuknya yang kelihatan ringkih, gadis kecil itu mempunyai semangat yang luar biasa, dia berani berdiri didepan seorang anak yang bahkan dapat menyingkirkannya dengan sangat mudah, dengan mulut mungilnya dia bisa menenangkan temannya yang menangis ketakutan. tapi dia tetap semangat dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, aku jadi berfikir bagaimana dengan kita yang notabene mengaku sebagai “orang dewasa” aku rasa kalah jauh dengan sikap bening gadis kecil tadi, kadang  kita terlupa akan siapa kawan dan siapa teman, dan membuat kita tak bisa membedakan mana kebenaran yang hakiki dan mana sesuatu yang harus kita jauhi.

sore yang menakjubkan, dan malam yang indah, kunikmati gemerlapan bintang yang redup tertutup oleh awan, terimakasih Allah atas segala nikmat dan anugerahMu,

ketika Keabadian tiba,

jiwaku tertegun,

ketika mimpiku mulai merangkak,

hatiku terdiam,

ketika malam menjelang,

mataku terjaga,

ketika syairmu mulai terdengar sanyup,

diriku merasa dingin,

aku mulai lelah berjalan,

sayapku mulai merapuh,

kucari bayangmu sahabat, dimana?

aku tak menemukanmu dimanapun,

aku melangkah ke arah cahaya,

berharap kau ada disana,

menungguku dengan senyum,

tapi tak kutemukan juga,

hingga akhirnya aku sadar,

mungkin inilah waktunya aku belajar,

melangkah sendirian dan merelakanmu terbang menjauh,

Aku berjalan dalam keheningan,

Mencoba memahami kemana arah langkahku,

Kemana arah angin membawaku,

Kutengadahkan satu tanganku, mencoba merasakan hembusannya,

aku terdiam, kutertunduk,

ya Allah, disinilah aku berada,

dalam dekapanMu, dan dalam ukiran takdirMu,

Jika ini memang yang terbaik untuk hamba,

Jika memang ini sudah jalan yang Kau pilihkan untuk Hamba,

Tuntunlah hamba menuju ridhoMu,

Ikhlaskan hamba dalam setiap langkah,

Hembuskan nafas kerelaan dalam hati Hamba,

Hamba bukanlah insan yang pemaaf,

bukan pula insan yang penuh cinta,

Hamba hanya satu makhlukMu yang sering terlepas kendali,

yang kadang sadar dan tanpa sadar menggores luka yang perih,

ya Allah, jernihkanlah pikiran hamba,

buanglah segala prasangka buruk dihati hamba,

berikanlah hati yang ikhlas, jangan biarkan hamba termasuk hambaMu yang tersesat,

sesungguhnya hanya padaMu lah hamba menyembah dan meminta pertolongan,

ya Allah terimakasih atas hari ini, hari kemarin dan untuk hari yang akan datang kelak,

terimakasih atas nafas yang Engkau berikan saat ini,

terimakasih atas detakan jantung yang berdenyut ini,

terimakasih atas aliran darah yang mengalir diraga ini,

terimakasih atas bumi yang dipijak ini,

terimakasih atas bulan yang Engkau sucikan ini,

terimakasih atas hidup yang telah Engkau anugrahkan ini,

terimakasih ya Allah, segala puji hanyalah UntukMu,

So this is who I am,
And this is all I know,
And I must chosse to live,
For all that I can give,
The spark that makes the power grow

And I will stand for my dream if I can,
Symbol of my faith in who I am,
But you are my only,
And I must follow on the road that lies ahead,
And I won’t let my heart control my head,
But you are my only
And we don’t say goodbye,
And I know what I’ve got to be

Immortality
I make my journey through eternity
I keep the memory of you and me inside

Fulfill your destiny,
Is there within the child,
My storm will never end,
My fate is on the wind,
The king of hearts, the joker’s wild,
But we don’t say goodbye,
I’ll make them all remember me

‘Cos I have found a dream that must come true,
Every ounce of me must see it through,
But you are my only
I’m sorry I don’t have a role for love to play,
Hand over my heart I’ll find my way,
I will make them give to me

Immortality
There is a vision and a fire in me
I keep the memory of you and me, inside
And we don’t say goodbye
We don’t say goodbye
With all my love for you
And what else we may do
We don’t say, goodbye

Aku sampaikan salamku padanya,

berharap mungkin sekarang ia sedang terbang ke langit timur,

angin, apa yang kau rasakan?

ada disekeliling, memeluk setiap jengkal tanah yang dipijak,

tapi tak pernah terlihat,

hanya selalu disamping, menari dan berbisik,

tapi tak pernah tersentuh,

menjadi yang terlupakan, menjadi yang kasat mata,

angin…

tak pernahkah terpikir olehmu, bagaimana orang merindukanmu?

atau bagaimana orang mencarimu untuk merasakan kesejukanmu?

tapi mungkin lebih banyak orang yang segera melupakanmu, begitu kau datang menyapa dan pergi,

lebih banyak orang yang tak tahu kemana langkahmu setelah mendengar bisikanmu,

kau adalah dirimu apa adanya,

tersenyum, memberi harapan, dan menerbangkan kegalauan hati yang kelam,

dan pergi bersama kegalauan, ke ujung langit, jauh diatas, tanpa bisa dijangkau,

angin…

apa yang kau rasakan?

tak kau tinggalkan jejakmu, untuk dirindukan,

tak kau sisakan bayangmu, untuk dinantikan,

kau adalah dirimu apa adanya,

hanya mengukir, dan menghilang tanpa bekas,

apakah tulisan pasirku dulu juga sudah kau hapus?

apakah jejak langkah kakiku juga sudah hilang?

dan kau terbangkan bersama kepakanmu,

kau adalah dirimu apa adanya,

angin yang tak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan,

tidak bisa diarahkan, tapi selalu terbang,

tidak bisa disentuh, tapi selalu ada,

tidak pernah pergi, tapi selalu dilupakan,

kau adalah dirimu apa adanya,

dan tetaplah seperti itu, mungkin aku akan selalu bersamamu,

bersama kita menghapus jejak yang kutinggalkan,

tanpa meninggalkan sisa keberadaan,

hanya butiran pasir yang lembut dan terbang bersamamu,

Setiap waktu adalah rahmatMu, setiap nafas adalah kasihMu, dan setiap jejak langkah adalah bukti kebesaranMu, Engkaulah yang menjadikan tiada menjadi ada, dan yang ada menjadi sirna, Engkaulah sang Maha kebesaran, dan Maha Pemberi,

ya Allah, hamba ucapkan syukur Alhamdulillah berulang-ulang, tanpa rahmatMu hamba tidak mungkin duduk minum teh disini, Engkau tunjukkan hamba semua kasih sayangMu, benar-benar tak ada yang bisa melindungi Hamba, kecuali Engkau, tak ada yang begitu mencintai umatMu kecuali Engkau,

Engkau tunjukkan satu-persatu kasih sayangMu, dari bangunnya jiwa diufuk fajar, hingga lelahnya raga dilangit malamMu, ikhlaskan hamba dalam setiap nafas yang Engkau berikan ya Allah,

bahkan saat masih terlintas dalam kerja otakku, belum sempat terucap dalam kata-kata pun, Engkau tunjukkan anugerahMu, dalam sekejap dalam detik itu dan semua dalam genggamanMu,

Terima kasih ya Allah, Puji syukur, Maha Suci Engkau dengan segala Rahmat dan AnugerahMu,

Hanya Engkau sebaik-baik penjaga dan pelindung, tuntunlah hamba selalu dalam jalan lurusMu, selamatkan hamba di dunia dan akhirat,  Amin….

Alhamdullilah,,

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,

dan bulan apabila mengiringinya,

dan siang apabila menampakannya,

dan malam apabila menutupinya,

dan langit serta pembinaannya,

dan bumi serta penghamparannya,

dan jiwa serta penyempurnaannya,

maka Allah mengilhamkan jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya,

sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya,

Aku melihatnya kemarin, duduk diujung jalan menanti mentari senja tenggelam diujung langit, entah apa yang dipikirkannya, lelaki dengan kemeja putih, dan sarung cokelat bermotif kotak-kotak, wajahnya bersih dan tatapannya penuh tanda tanya, tapi tak tampak dia ingin mengutarakan isi hatinya, dia hanya diam dan melihat kejauhan seolah menanti seseorang tapi kurasa dia berbicara dengan langit sore, entah apa yang dipikirkannya.

Aku tiba didesa ini saat senja mulai menggusur siang, dan manusia pertama yang kutemui adalah laki-laki dengan baju putih dan sarung kotak-kotak itu, padanya lah aku bertanya dimana rumah pak lurah, tempat aku menginap malam ini.

Menjelang magrib dia bergegas meninggalkan ujung desa, menuju sebuah surau kecil tak jauh dari ujung desa, surau yang terbuat dari kayu dengan gaya panggung, berbentuk persegi kecil dengan ukuran delapan kali delapan meter, didalam surau kayu itu batas antara wanita dan pria hanya dibatasi dengan selembar kain setinggi 1,5 meter berwarna putih kecokelatan, tapi tampak bersih yang ditalikan dari ujung ke ujung dinding kayu surau ini. mimbar disurau itu juga sederhana, terbuat dari kayu tua dengan ukuran yang sangat sederhana tapi tampak anggun dan berwibawa, lantai surau juga terbuat dari kayu tua yang kuat, sehingga membuat nyaman seberat apapun orang yang sholat diatasnya, dinding surau terbuat dari kayu tanpa dicat, terlihat warna asli surau yang cokelat kayu, dipinggir sebelah kiri tampak rak kecil dari kayu, di rak atas ada tiga buah Al’quran yang warna kertasnya sudah cokelat tapi masih tertata rapi, tidak kelihatan kertasnya rusak, di rak kedua ada beberapa tumpukan sajadah dan sarung yang kelihatan sudah lama. keseluruhan surau itu menampakkan kesederhanaan yang terlihat kuno dan bersih, tak aku pungkiri aku terpana melihat surau kecil ini,aku merasa baru benar-benar pulang ke rumah Allah, sangat sederhana tapi membuat betah didalamnya, didepannya ada sebuah taman kecil dengan bunga-buangaan berwarna-warni, tapi tampak olehku tanaman lengkuas, kunyit, dan rambatan tanaman pare yang saling berinteraksi satu sama lain tampak hijau serasi, surau yang kecil, sederhana dan bersahaja.

lelaki dengan baju putih dan sarung cokelat kotak-kotak itu mengumandangkan adzan yang membahana dilangit senja desa ini, suaranya merdu, dan menghanyutkan siapapun yang mendengarnya, suara itu pula yang menyadarkanku sudah waktunya menghadap sang khalik dan bersujud syukur atas segala kaurniaNya.

Aku masih melihatnya saat senja datang lagi menyapa desa ini, dia tetap seperti posisinya kemarin menghadap ujung jalan, dengan tatapan yang sabar menunggu, entah apa yang ditunggunya, sesekali dia menghela nafas, dan tertunduk melihat bebatuan diujung kakinya, dan melihat ujung jalan lagi, dan menuju surau kecil setelah senja benar-benar pergi beranjak mengantarkan malam, mengumandangkan adzan magrib, berharap suaranya terdengar oleh seseorang yang selalu dinantinya.

Aku masih tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki tua itu, hingga hari terakhirku di desa itu, aku masih melihatnya diujung jalan saat senja mulai turun menanti kabar dari sang buah hati yang meninggalkannya pergi melewati ujung jalan desa ini, baginya dunianya adalah desa kelahirannya, dan buah hatinya pasti akan pulang, dia selalu berpikir seperti itu, karena dia yakin tak ada burung yang tak kembali ke sarangnya, dan dia adalah sarang bagi buah hatinya, dia yakin itu.